edisiana.com – Atmosfer Liga Champions kembali menyelimuti Camp Nou, namun duel antara Barcelona dan Atletico Madrid pada Rabu malam terasa seperti lanjutan panas dari LaLiga.
Leg pertama perempat final ini bukan sekadar pertarungan Eropa—ini adalah bentrokan dua rival yang baru saja saling menguji akhir pekan lalu.
Atlético datang ke Catalunya dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Pasukan Diego Simeone tengah mengalami periode sulit. Mereka menelan tiga kekalahan beruntun di semua kompetisi, termasuk kekalahan 1-2 dari Barcelona di liga Sabtu lalu.
Sebuah hasil yang masih membekas, sekaligus menjadi pengingat keras akan tantangan yang menanti mereka di panggung kontinental.
Namun, Los Colchoneros bukan tanpa alasan untuk tetap percaya diri. Perjalanan mereka hingga babak perempat final adalah kisah ketahanan.
Empat kekalahan di fase sebelumnya tidak mampu menggugurkan ambisi mereka. Justru sebaliknya—mental baja yang terbentuk dari situasi sulit menjadi senjata utama Atlético.
Lebih dari itu, sejarah pertemuan dengan Barcelona di kompetisi ini memberikan suntikan optimisme. Atlético tahu bagaimana cara bersaing, bahkan di saat mereka tidak berada dalam performa terbaik.
Di LaLiga, posisi keempat yang mereka tempati—dengan keunggulan 12 poin atas Real Betis—memberikan ruang bernapas. Liga domestik bukan lagi prioritas utama.
Melansir Sport Mole, fokus kini tertuju sepenuhnya pada Liga Champions, serta final Copa del Rey yang sudah menanti melawan Real Sociedad.
Sementara itu, Barcelona akan berusaha memanfaatkan momentum dan dukungan publik Camp Nou untuk mengamankan keunggulan awal.
Namun seperti yang sering terjadi dalam duel klasik ini, statistik dan performa terkini kerap kehilangan arti saat peluit pertama dibunyikan.
Malam Eropa, rasa LaLiga—dan segalanya masih terbuka.(maq)
