edisiana.com – Liverpool datang ke Paris bukan dalam kondisi ideal, tetapi justru di situlah Arne Slot ingin melihat karakter sejati timnya.
Menghadapi PSG di perempat final Liga Champions, Rabu malam nanti, sang pelatih dengan jujur mengakui realitas: lawan mereka kini berada di level yang sangat tinggi, bahkan lebih kuat dibanding saat meraih gelar musim lalu.
Slot tidak bersembunyi di balik retorika. Ia melihat PSG sebagai tim matang, sementara Liverpool masih berada dalam fase pembangunan ulang.
Sebuah transisi besar tengah berlangsung di Anfield—ditandai dengan masuknya nama-nama seperti Florian Wirtz, Hugo Ekitike, dan Alexander Isak, serta bayang-bayang kepergian Mohamed Salah yang semakin dekat.
Perubahan ini belum sepenuhnya membuahkan hasil. Isak, yang diharapkan menjadi salah satu wajah baru lini depan, justru menghabiskan sebagian besar musim debutnya di Merseyside dalam kondisi cedera.
Kini ia telah ikut terbang ke Paris, namun Slot memastikan sang striker belum akan menjadi starter dan kemungkinan besar memulai laga dari bangku cadangan.
Di tengah proses adaptasi itu, Liverpool juga masih menyimpan luka segar.
Kekalahan telak 0-4 dari Manchester City yang berujung tersingkir dari Piala FA menjadi pukulan keras—bukan hanya secara hasil, tetapi juga secara mental.
Namun Slot tidak ingin timnya tenggelam dalam kekecewaan. Justru sebaliknya, ia menuntut reaksi.
“Sekarang kita harus menunjukkan mentalitas itu lagi, yaitu terus maju dan bangkit setelah kekecewaan, karena klub ini juga telah berkali-kali menunjukkan bahwa kita dapat melakukan hal-hal yang sangat istimewa dalam keadaan sulit,” tegasnya dikutip dari Sport Mole pada hari ini.
Pernyataan itu bukan sekadar motivasi kosong. Liverpool memiliki sejarah panjang tentang kebangkitan—malam-malam Eropa yang penuh keajaiban telah menjadi bagian dari identitas klub.
Kini, di Paris, mereka kembali diuji. Bukan hanya soal taktik atau kualitas individu, tetapi tentang seberapa cepat mereka bisa bangkit dari keterpurukan.
Karena dalam pandangan Slot, menghadapi PSG yang “lebih baik dari sebelumnya” membutuhkan lebih dari sekadar strategi. Dibutuhkan mentalitas baja—dan mungkin, sedikit sentuhan magis khas Liverpool.(maq)
