edisiana.com – Hill Dickinson Stadium berubah jadi panggung drama khas Liga Inggris. Everton dan Wolves bermain imbang 1-1 dalam laga yang awalnya biasa saja, sebelum berakhir dengan kekacauan, kartu merah, dan emosi yang meledak-ledak.
Everton membuka pesta lebih dulu. Menit ke-17, Michael Keane muncul sebagai pahlawan tak terduga.
Bek tengah itu memanfaatkan bola liar dari jarak dekat dan menaklukkan kiper Wolves. Gol ketiganya di Premier League musim ini—Goodison bergemuruh.
Namun keunggulan itu tak bertahan lama. Wolves merespons cepat. Menit ke-21, Pemakn Mane menunjukkan insting tajamnya.
Menerima umpan dari pemain pengganti Jorgen Strand Larsen, ia menaklukkan Jordan Pickford dan membuat skor kembali imbang. 1-1. Semua kembali ke titik nol.
Laga lalu berjalan datar. Minim percikan. Seolah tak ada yang menyangka apa yang akan terjadi di penghujung pertandingan.
Dan kemudian… ledakan terjadi.
Tujuh menit sebelum waktu normal berakhir, Keane berubah dari pencetak gol menjadi tokoh antagonis. Duel udara dengan Tolu Arokodare berujung petaka.
Melansir BBC, VAR turun tangan, dan tayangan ulang memperlihatkan Keane menarik rambut striker Wolves itu. Kartu merah langsung. Tamat sudah malamnya.
Belum selesai. Kekacauan berlanjut. Jack Grealish menyusul ke terowongan hanya tiga menit kemudian. Protes berlebihan membuatnya diganjar kartu kuning kedua.
Everton hancur secara mental—dan harus bertahan dengan sembilan pemain di sembilan menit waktu tambahan yang terasa seperti selamanya.
Wolves nyaris mencuri kemenangan dramatis. Hugo Bueno melepas tembakan jarak jauh yang menggetarkan stadion. Tapi Pickford, dengan refleks kelas dunia, terbang dan menepis bola. Penyelamatan yang menyelamatkan satu poin.
Peluit panjang berbunyi. Skor tetap 1-1.
Bukan hasil yang akan dikenang karena kualitas permainan—melainkan karena drama, kartu merah, dan malam penuh kegilaan.(maq)
