edisiana.com – Elland Road kembali bergetar. Leeds United menunjukkan jantung baja, bangkit dari ketertinggalan dua gol dan menahan juara bertahan Liverpool dalam duel yang berubah menjadi festival emosi, 3-3, yang sekaligus meredakan tekanan besar dari pundak Daniel Farke.
Semua tampak hilang saat Hugo Ekitike meledak dengan dua gol cepat dalam tiga menit di babak kedua, membuat Liverpool seakan mengunci pertandingan. The Reds menguasai bola, mengatur tempo, dan seolah siap pulang dengan tiga angka tanpa drama.
Tapi sepak bola tidak pernah berjalan lurus di Elland Road.
Sebuah aksi ceroboh Ibrahima Konaté yang menjatuhkan Wilfried Gnonto di kotak terlarang menghidupkan kembali tuan rumah. Dominic Calvert-Lewin mengeksekusi penalti dengan dingin, memicu api yang memanas di tribune.
Dan api itu benar-benar membesar. Anton Stach datang sebagai penyama kedudukan pada menit ke-75, mengubah stadion menjadi kawah suara yang siap meledak.
Namun Liverpool membalas. Dengan gaya khasnya, Dominik Szoboszlai menusuk dan menghancurkan euforia Leeds hanya lima menit berselang. 2-3 — sebuah pukulan telak.
Tapi malam ini adalah malam keajaiban bagi Leeds. Dan keajaiban itu bernama Tanaka. Pada masa tambahan waktu, dari skema sepak pojok, ia menyelinap ke tiang jauh dan menghajar bola masuk ke gawang. Elland Road meledak. Sebuah gol yang terasa seperti kemenangan.
Hasil imbang ini mengangkat Leeds ke peringkat 16, tiga poin di atas West Ham yang berada di zona merah. Liverpool? Mereka terpeleset ke posisi kedelapan, kehilangan kesempatan untuk memperbaiki langkah.
Bagi Farke, ini bukan sekadar satu poin — ini oksigen. “Salah satu malam ajaib di Elland Road,” katanya dinukil dari BBC pada hari ini.
Namun ketika ditanya apakah ini termasuk minggu terbaiknya di Liga Primer, Farke hanya menghela napas dan tersenyum letih. “Tidak… justru salah satu yang paling melelahkan,” imbuhnya.
Elland Road percaya lagi. Dan itu mungkin kemenangan terbesar Leeds malam ini.(maq)










