edisiana.com – Timnas Putri Prancis membuka Euro Wanita 2025 dengan kemenangan impresif 2-1 atas juara bertahan Inggris dalam laga pembuka Grup D. Kekalahan ini menjadi yang pertama bagi manajer Sarina Wiegman di putaran final turnamen besar, sekaligus mengakhiri catatan tak terkalahkan Lionesses dalam 12 pertandingan Euro terakhir mereka.
Inggris datang dengan reputasi sebagai tim kuat dan juara bertahan dari edisi 2022. Namun, pertahanan mereka mulai runtuh di menit ke-36, ketika Marie-Antoinette Katoto mencetak gol pembuka.
Gol tersebut lahir dari serangan balik cepat — Élisa De Almeida memenangkan bola di lini belakang, mengirimkannya ke Delphine Cascarino di sisi sayap, yang kemudian menyodorkan umpan akurat ke Katoto untuk diselesaikan dengan mudah dari jarak dekat.
Hanya tiga menit berselang, Prancis menggandakan keunggulan melalui gol indah dari Sandy Baltimore. Aksi individunya memukau — menggiring bola melewati pertahanan Inggris, hampir kehilangan penguasaan, namun mampu menuntaskan peluang dengan tembakan tajam dari sudut sempit yang menaklukkan Mary Earps.
Inggris terlihat kesulitan menemukan ritme permainan mereka. Tanpa arah yang jelas dalam serangan, mereka bahkan tak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-87, saat Keira Walsh melepaskan tendangan jarak jauh yang memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1. Gol itu memicu momentum kebangkitan singkat.
Lionesses nyaris menyamakan kedudukan di menit-menit akhir. Alessia Russo dan Grace Clinton menciptakan peluang berbahaya, sementara pemain muda Michelle Agyemang, yang baru berusia 19 tahun, hampir mencetak gol sebelum tendangannya diblok oleh Selma Bacha — yang tampil heroik menjaga gawang Prancis tetap aman di masa kritis.
Setelah pertandingan, manajer Inggris Sarina Wiegman mengakui bahwa timnya terlalu sering mencoba membangun serangan lewat bola pendek, yang justru menguntungkan permainan Prancis.
Kekalahan ini menandai kali pertama juara bertahan Euro Wanita kalah dalam pertandingan pembuka turnamen berikutnya.
Kapten Inggris, Leah Williamson, menyoroti kesalahan individu dalam situasi satu lawan satu sebagai faktor utama kekalahan. Namun ia menegaskan tim sudah mengalihkan fokus ke pertandingan berikutnya.
“Semua orang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dan melihat ke depan. Besok kami punya rencana permainan baru, lawan yang berbeda, dan kesempatan baru,” ujarnya dinukil dari ESPN.(maq)
