Guardiola Mengakui: Sepak Bola Modern Bergerak ke Arah Kloppites Lama

Pep Lijnders telah hadir ke skuad Manchester City asuhan Pep Guardiola. Foto: via BBC

edisiana.com – Kehadiran Pep Lijnders di kancah kepelatihan tampaknya menjadi simbol pergeseran besar dalam sepak bola modern. Bahkan Pep Guardiola, arsitek utama filosofi permainan posisional yang mendominasi selama lebih dari satu dekade terakhir, kini mengakui bahwa arah permainan telah berubah.

Dulu, dominasi teritorial yang menjadi ciri khas tim-tim Guardiola cukup untuk membungkam lawan-lawannya, terutama yang berkualitas di bawah. Namun kini, dengan meningkatnya kualitas tim-tim papan tengah dan bawah Liga Primer, pendekatan itu tak lagi mutlak ampuh.

Tim seperti Brighton, Newcastle, Bournemouth, hingga Liverpool tampil berani. Mereka menekan tinggi, mengganggu fase build-up, dan memanfaatkan transisi cepat sebagai senjata utama.

“Sepak bola modern adalah cara bermain Bournemouth, Newcastle, Brighton, dan Liverpool,” ujar Guardiola dikutip dari BBC hari ini. “Sepak bola modern tidak bergantung pada posisi. Anda harus mengikuti ritmenya.”

Itu adalah pernyataan luar biasa, mengingat Guardiola adalah pionir utama filosofi “juego de posición”—gaya bermain berbasis posisi yang mendefinisikan sepak bola elite selama 15 tahun terakhir.

Namun, pernyataan itu juga sangat relevan. Sepak bola hari ini bergerak lebih dinamis, lebih vertikal, dan lebih intens.

Statistik mendukung pernyataan tersebut. Dalam lima tahun terakhir, tren menunjukkan peningkatan pada permainan direct dan counter-attacking. Angka PPDA (Passes Per Defensive Action)—metrik yang mengukur seberapa sering sebuah tim menekan lawan—terus menurun.

Semakin rendah PPDA, semakin tinggi intensitas tekanan. Artinya, tim-tim kini menekan lebih agresif daripada sebelumnya.

Model yang selama ini diidentikkan dengan Klopp—gegenpressing, transisi cepat, dan intensitas tinggi—bukan lagi milik Liverpool semata. Gaya ini kini tersebar luas, bahkan menginspirasi klub-klub dengan sumber daya lebih kecil untuk bersaing di level yang lebih tinggi.

Maka tidak mengherankan jika Guardiola, meski masih memegang teguh prinsip-prinsip taktisnya, kini mulai merespons perubahan. Karena untuk tetap relevan dalam sepak bola modern, bahkan sang maestro pun harus belajar menyesuaikan diri dengan ritme zaman.(maq)

Exit mobile version