edisiana.com – Suatu hari, seorang anak berusia tujuh tahun bermain bola di jalanan Nagrig, sebuah desa kecil di Delta Nil, Mesir. Di antara teman-temannya, ia pura-pura menjadi Ronaldo dari Brasil, lalu Zidane dari Prancis, atau Francesco Totti dari Italia.
Anak itu adalah Mohamed Salah, yang sekarang dikenal dunia sebagai “Raja Mesir”.
Di desa pertanian yang tenang itu—dikelilingi ladang hijau melati dan semangka, dengan kerbau, sapi, dan keledai yang akan berbagi jalan tanah dengan mobil dan kereta kuda—Salah akan tumbuh dan mulai mencintai sepak bola.
Kelak, dunia akan mengenalnya sebagai salah satu penyerang paling berbahaya dan produktif di dunia. Namun, sebelum mencapai titik itu, ia akan melewati jalan yang panjang dan berat.
El-Saadany, yang menjadi pelatih pertamanya saat ia baru berusia delapan tahun, berkata bahwa keluarga Salah adalah fondasi dan rahasia kesuksesannya.
Meski tubuhnya akan lebih kecil dari anak-anak lainnya, Salah akan menunjukkan kemampuan luar biasa—tembakan kuat, kontrol bola yang baik, serta tekad dan semangat pantang menyerah.
Ia akan memulai perjalanannya ke klub Arab Contractors dengan perjuangan yang luar biasa. Setiap hari, ia akan meninggalkan rumah pukul 10 pagi dan baru akan kembali tengah malam.
Dalam perjalanan itu, ia akan menempuh rute panjang: dari Nagrig ke Basyoun, lalu ke Tanta, menuju stasiun Ramses di Kairo, berganti bus beberapa kali, dan begitu juga saat pulang.
Salah akan menanggung semua itu sendirian, naik kendaraan umum yang penuh sesak dan panas, demi satu tujuan: menjadi pesepak bola profesional.
Seorang jurnalis Mesir, Wael El-Sayed, akan menjelaskan betapa beratnya perjalanan itu bahkan untuk orang dewasa, apalagi untuk seorang anak. Namun, perjalanan itu akan membentuk karakter Salah—mental baja, kerja keras, dan ketahanan yang akan membawanya ke puncak dunia sepak bola.
Hany Ramzy, pelatih yang memberikan debut internasional untuk Salah pada Oktober 2011, mengatakan bahwa kesulitan itulah yang menempa Salah menjadi pemain tangguh yang mampu bersaing di level tertinggi.
Ramzy, yang juga akan mengalami kesulitan serupa di masa kecilnya, melihat bagaimana pengalaman masa muda di Mesir. Dengan segala keterbatasan dan perjuangannya, akan membentuk generasi pesepak bola yang kuat dan berdedikasi.
Dan hari ini, dunia melihat hasil dari semua perjuangan itu: seorang anak desa dari Nagrig yang menjelma menjadi legenda Liverpool.(bersambung/maq)
