Insiden Penalti Julián Álvarez Berujung pada Perubahan Aturan UEFA dan IFAB

Julian Alvarez mencetak sepasang gol untuk Atletico Madrid. Foto: via ESPN

edisiana.com – Insiden penalti tidak sengaja yang melibatkan striker Atlético Madrid, Julián Álvarez, dalam laga Liga Champions melawan Real Madrid membawa dampak besar. Peristiwa itu kini menjadi landasan perubahan resmi pada interpretasi aturan penalti oleh UEFA dan IFAB (International Football Association Board).

Dalam laga babak 16 besar Liga Champions pada bulan Maret, Álvarez terpeleset saat melakukan eksekusi penalti. Ia secara tidak sengaja menyentuh bola dua kali—tendangan awal menyentuh kakinya yang berdiri sebelum bola masuk ke gawang Thibaut Courtois. Meski tampaknya sah, gol itu dibatalkan lewat tinjauan VAR karena dianggap pelanggaran “sentuhan ganda”.

Atlético Madrid akhirnya kalah dalam adu penalti, dan banyak pihak menilai keputusan tersebut tidak adil karena kesalahan Álvarez bersifat tidak disengaja dan tidak memberi keuntungan nyata.

BACA JUGA:  Wales Menang 3-1 Menjamu Kazakhstan

Kini, UEFA dan IFAB memperbarui interpretasi hukum penalti (Hukum 14) untuk mengatasi ambiguitas tersebut. Dalam pernyataan resminya, IFAB menyatakan:

“Situasi ini jarang terjadi, dan karena tidak secara langsung diatur dalam Hukum 14, wasit cenderung memberikan penalti kepada penendang. Namun, bagian ini terutama ditujukan untuk situasi di mana pengambil penalti dengan sengaja menyentuh bola untuk kedua kalinya sebelum bola tersebut mengenai pemain lain, ” terang IFAB seperti dilansir ESPN pada Rabu ini.

Aturan Baru: Penalti dengan Sentuhan Ganda Tak Sengaja Akan Diulang

Mulai dari semifinal UEFA Nations League antara Jerman dan Portugal di Munich, serta pada Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat (yang dimulai 14 Juni), penalti yang menyentuh dua kali secara tidak sengaja oleh penendang akan diulang, bukan langsung dibatalkan.

BACA JUGA:  Dua Murid Bielsa yang Klaim Gila

Namun, IFAB juga menetapkan batasan: Jika penalti dengan sentuhan ganda tidak masuk, maka tidak akan diulang (dinyatakan gagal).

Dalam adu penalti, penalti yang seperti itu tetap dicatat sebagai gagal.

Di waktu normal atau tambahan, jika tidak gol, tendangan bebas diberikan kepada tim lawan.

Perubahan ini bertujuan untuk menghadirkan keadilan dan menghindari kerugian bagi pemain yang terpeleset atau melakukan kesalahan teknis yang tidak disengaja dalam situasi penuh tekanan seperti adu penalti.

Dengan aturan baru ini, insiden seperti yang dialami Álvarez tidak akan kembali mengorbankan hasil tim akibat kekeliruan teknis yang tidak diniatkan.

BACA JUGA:  Brasil Lolos, Empat Tim Lagi Menyusul

IFAB terdiri dari FIFA dan empat federasi sepak bola Inggris. Peraturan dapat diubah dengan enam dari delapan suara yang dibagikan oleh empat suara kepada FIFA dan masing-masing satu suara kepada Inggris.(maq)