edisiana.com – Duel antara Al Nassr dan Al Ahli bukan sekadar pertandingan penentu papan atas. Laga yang berakhir dengan kekalahan 3-2 bagi Al Nassr itu juga diwarnai ketegangan tinggi. João Félix menjadi pusat perhatian setelah insiden panas di masa tambahan waktu.
Al Nassr datang ke laga ini dengan kepercayaan diri penuh. Sepuluh pertandingan, sepuluh kemenangan, 30 poin sempurna. Awal musim yang nyaris tanpa cela. Namun, Jumat malam menjadi titik patah.
Al Ahli mematahkan laju sempurna tersebut, mengakhiri rekor tak terkalahkan Nassr sekaligus membuka kembali persaingan perebutan gelar. Hasil ini berdampak besar pada klasemen.
Posisi puncak kini tidak lagi aman, dan kemenangan Al Hilal di laga berikutnya bisa mengubah peta persaingan secara signifikan.
Namun, cerita laga tidak berhenti pada skor. Di luar aspek teknis dan taktis, momen paling mencolok justru terjadi di penghujung pertandingan. Emosi memuncak.
Dalam situasi panas di waktu tambahan babak kedua, João Félix mendapat perlakuan keras dari Ali Majrashi yang kehilangan kendali.
Pemain Al Ahli itu melayangkan tamparan ke arah Félix—tidak sepenuhnya mengenai wajah, tetapi cukup memicu keributan.
Menurut MD, mantan pemain Atlético Madrid dan Barcelona tersebut bereaksi, dibantu beberapa rekan setimnya, sebelum situasi cepat dilerai.
Iñigo Martínez termasuk yang sigap masuk ke tengah kerumunan, berusaha menenangkan keadaan agar timnya tetap fokus mengejar hasil imbang di sisa waktu.
Upaya itu sia-sia. Skor 3-2 bertahan hingga peluit akhir. Al Nassr kehilangan rekor sempurna mereka.
Sementara laga ini akan dikenang bukan hanya karena hasilnya, tetapi juga karena tensi tinggi yang mencerminkan betapa sengitnya persaingan di papan atas musim ini.(maq)










