Offside Piala Dunia dì Qatar Pakai Teknologi Canggih

268
Ilusttrasi. Foto: BBC

Lebih Cepat Terkontrol Kamera

Bola,  edisiana.com FIFA telah memutuskan piala dunia di Qatar nanti akan menggunakan alat teknologi canggih untuk menentukan offside. Karena lebih cepat dan akurat. 

Nantinya sensor di tengah bola, yang mengirimkan data 500 kali per detik untuk menentukan titik tendangan yang tepat. Sebanyak 12 kamera multi-pelacakan khusus yang tersinkronisasi 100 persen akan dipasang di atap setiap stadion. 

Gunanya melacak bola dan 29 poin pada setiap pemain, mengirimkan data 50 kali per detik untuk menghitung posisi tepat mereka di lapangan.

BACA JUGA:  Protes Wasit, Wolves Dijatuhi Sanksi Rp1 M

Setiap pemain dalam posisi offside akan memicu peringatan di bilik video asisten wasit yang dapat diteruskan ke wasit di lapangan.

Sistem ini diuji coba di Piala Arab dan Piala Dunia Antarklub tahun lalu. Yang mana diperkirakan telah mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk membuat keputusan offside VAR dari 70 menjadi 25 detik.

“Kami sangat positif. Sudah siap,” kata kepala wasit FIFA Pierluigi Collina dikutip dari BBC pada hari ini. 

BACA JUGA:  Alvarez: City Bagus di Premier League dan Champions

Dan diklaim penggunaan teknologi membuat wasit hampir tidak berdaya dalam hal pengambilan keputusan.

Collina, yang terpilih sebagai wasit terbaik dunia selama enam musim berturut-turut dari 1998 hingga 2003 dan memimpin final Piala Dunia 2002 antara Brasil dan Jerman, menyangkal hal itu.

Dia mengatakan masih ada ruang untuk perdebatan seputar keputusan. “Saya membaca tentang wasit robot. Saya mengerti ini sangat bagus untuk berita utama tetapi tidak demikian,” ucapnya. 

“Ofisial pertandingan masih terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Teknologi semi-otomatis hanya memberikan jawaban ketika seorang pemain dalam posisi offside saat memainkan bola,” imbuhnya lagi. 

BACA JUGA:  Pep: Rodri, Contohlah Fernandinho

Menurutnya, dalam penilaian pemain melakukan pelanggaran dan melihat apakah pemain ada handball atau tidak, tetap menjadi kebijaksanaan wasit.

“Tujuan kami adalah membuat wasit mengambil keputusan dengan benar di lapangan. Jika sesuatu yang salah terjadi, wasit dapat memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang apa yang terjadi – tetapi masih ada ruang untuk diskusi,” tutupnya.(maq)

BAGIKAN