edisiana.com – Dokter gigi di Jepang telah menemukan cara untuk menumbuhkan kembali gigi. Dan ujicoba baru sebatas pada hewan, sementara percobaan pertama pada manusia akan dilakukan dalam beberapa bulan lagi.
Kebanyakan orang memiliki dua set gigi, gigi susu muncul pada usia sekitar enam bulan, dan secara bertahap digantikan oleh gigi dewasa pada sekitar usia enam tahun.
Namun, di Inggris, tiga hingga lima persen penduduknya dilahirkan dengan gigi tanggal. Dan menurut Bupa, hampir 75 persen orang dewasa di Inggris tidak memiliki gigi lengkap. Enam persen tidak memiliki gigi asli.
Menurut media Inggris, Metro, kini, Dr Katsu Takahashi, kepala departemen kedokteran gigi dan bedah mulut di Medical Research Institute Rumah Sakit Kitano, dan timnya berharap suatu hari nanti dapat memperbaiki senyuman dunia dengan menumbuhkan kembali gigi yang hilang tersebut.
Mereka telah mengembangkan obat yang yang diujicobakan terhadap tikus dan musang menumbuhkan kembali gigi. Yang dimulai bulan September 2023, dan akan mulai mengujinya pada manusia.
Penelitian ini melibatkan 30 pria berusia 30-64 tahun yang kehilangan setidaknya satu gigi belakang.
Obat ini bekerja dengan menonaktifkan protein yang disebut USAG-1 , yang menghentikan pertumbuhan gigi untuk memicu tumbuhnya gigi baru yang sebelumnya tidak ada, dan juga memperkuat tulang pada gigi yang sudah ada.
Uji coba pada hewan juga menguji obat tersebut pada anjing beagle, namun hasilnya belum dipublikasikan. Tidak ada efek samping yang dilaporkan dalam uji coba yang melibatkan musang dan tikus, yang memiliki sifat USAG-1 yang mirip dengan manusia.
Dr Takahashi, yang telah mengembangkan obat untuk menumbuhkan kembali gigi sejak ia menjadi mahasiswa pascasarjana di awal tahun sembilan puluhan.
“Kami ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka yang menderita kehilangan atau kehilangan gigi,” kata Takahashi kepada surat kabar Jepang Mainichi.
“Meskipun hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan secara permanen, kami merasa ekspektasi masyarakat terhadap pertumbuhan gigi sangatlah tinggi,” terangnya menambahkan.
Jika uji coba ini berhasil, para peneliti ingin memberikan obat tersebut kepada pasien berusia antara dua hingga tujuh tahun yang menderita defisiensi gigi bawaan, yang memiliki setidaknya empat gigi hilang sejak lahir.
Para peneliti kemudian ingin memperluas pengamatannya pada mereka yang kehilangan satu hingga lima gigi permanen karena faktor lingkungan.
Dr Takahashi percaya bahwa di masa depan, ada cara untuk membantu mereka yang kehilangan gigi karena gigi berlubang atau cedera. Jika uji coba berhasil, pengobatan tersebut dapat tersedia bagi pasien yang kehilangan gigi permanen pada tahun 2030.(maq)










