edisiana.com – Nama pemain berdarah ganda kembali jadi bahan perbincangan hangat di Belanda. Kali ini, sorotan mengarah pada bek naturalisasi Indonesia, Dean James, yang ikut terseret dalam polemik usai laga kontroversial di kompetisi domestik.
Kegaduhan bermula dari langkah NAC Breda yang mengajukan keberatan ke pengadilan di Utrecht. Keberatan itu dilayangkan setelah mereka dipermalukan Go Ahead Eagles dengan skor telak 0-6 pada 15 Maret lalu.
NAC Breda menuding sejumlah pemain lawan yang memiliki kewarganegaraan ganda tidak mengantongi izin kerja yang sah.
Tuduhan ini langsung memantik diskusi luas, bahkan merambah ke berbagai podcast sepak bola di Negeri Kincir Angin.
Salah satu yang ikut mengangkat isu tersebut adalah podcast populer De Derde Helft. Dalam episode terbarunya, para pembawa acara mengulas rapuhnya lini pertahanan NAC Breda sebelum akhirnya diskusi berbelok ke isu administratif pemain.
Komentator Rogier Jacobs secara spontan melontarkan pernyataan yang memicu keheranan.
“Ya, NAC Breda sebenarnya masih bisa memenangkan pertandingan ini,” ujarnya santai, seperti dinukil dari ESPN pada hari ini. Hal itu membuat suasana studio seketika hening dan penuh tanda tanya.
Jacobs kemudian menjelaskan bahwa Go Ahead Eagles diduga menurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat administrasi, termasuk Dean James.
Bek kiri tersebut diketahui telah membela Timnas Indonesia di level internasional pada Maret 2025.
“Jika dia pemain Belanda dengan paspor Indonesia, maka dia berhak memilih membela Indonesia,” jelas Jacobs.
Namun, ia menyoroti aspek hukum ketenagakerjaan. “Karena itu, dia harus memiliki izin kerja untuk bermain di sini,” lanjutnya.
Menurut Jacobs, jika benar James tampil tanpa izin kerja yang sah, maka secara hukum statusnya bisa dipermasalahkan.
Ia bahkan menyebut peluang bagi NAC Breda untuk membalikkan hasil pertandingan.“Kalau NAC mengetahui hal itu dan menggugat, maka laga ini bisa saja dinyatakan kemenangan untuk mereka,” tegasnya.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas di Belanda. Tidak hanya soal kekalahan telak, tetapi juga potensi implikasi hukum yang bisa mengubah hasil di atas lapangan.(maq)
