edisiana.com – Kinerja ekspor Batam awal 2026 tak sepenuhnya melemah. Penurunan yang terjadi ternyata hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu, terutama industri kapal serta kokoa/cokelat.
Data menunjukkan, penurunan terbesar berasal dari ekspor kapal yang susut sekitar USD 433,65 juta, disusul kokoa/cokelat yang turun USD 91,23 juta.
Kondisi ini menegaskan bahwa pelemahan bukan terjadi secara menyeluruh, melainkan akibat koreksi di sektor-sektor spesifik.
Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, turun langsung ke lapangan untuk memastikan penyebab tekanan tersebut.
Ia melakukan peninjauan sekaligus berdialog dengan pelaku usaha di dua sektor utama yang terdampak. Hasilnya, tekanan ekspor saat ini didominasi faktor eksternal.
Pada industri kapal, penurunan dipicu melemahnya permintaan global serta berakhirnya siklus pesanan besar sebelumnya. Selain itu, sektor ini juga sensitif terhadap fluktuasi harga energi dan dinamika geopolitik.
Sementara itu, sektor kokoa/cokelat masih mencatatkan produksi yang berjalan normal. Namun, realisasi ekspor melambat akibat kenaikan biaya bahan baku dan logistik, serta sikap hati-hati pasar global.
“Data menunjukkan bahwa koreksi ekspor Batam tidak bersifat menyeluruh, tetapi spesifik pada sektor tertentu. Karena itu, respons yang kami siapkan juga harus presisi, dengan memahami sumber tekanan secara langsung di lapangan,” ujar Fary.
Sebagai respons, BP Batam menyiapkan langkah intervensi terarah. Di antaranya memperkuat komunikasi dengan dunia usaha, mempercepat penanganan hambatan logistik dan biaya, serta meningkatkan koordinasi lintas instansi guna merespons tekanan eksternal.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga daya tahan sektor yang sedang tertekan, sekaligus memperkuat sektor lain yang masih tumbuh.
Pasalnya, di tengah tekanan tersebut, sejumlah komoditas utama justru mencatat kinerja positif.
Sektor minyak, bahan kimia, serta mesin dan peralatan listrik mengalami peningkatan. Bahkan, kontribusi terbesar datang dari sektor mesin dan listrik yang naik sekitar USD 309 juta.
Hal ini menunjukkan struktur ekspor Batam masih cukup kuat, dengan dukungan industri manufaktur berbasis teknologi.
Secara keseluruhan, nilai ekspor Batam pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar USD 3,107 miliar atau turun 3,67 persen secara tahunan (year-on-year). Meski demikian, kinerja ekspor dinilai tetap solid dan adaptif di tengah tekanan global.(*)











