edisiana.com – Inter Milan terus melaju tanpa ampun. Di malam dingin Monza, Nerazzurri menyingkirkan Torino dengan skor tipis 2-1 dan memastikan tiket semifinal Coppa Italia, Rabu (4/2/2026). Menang susah payah, tapi menang ala tim besar.
Torino sempat memberi ancaman. Menit ke-20, Carlos Augusto mengguncang mistar dengan tembakan jarak jauh. Stadion menahan napas.
Sebelas menit berselang, Matteo Prati membuang peluang emas setelah umpan silang Nikola Vlasic melayang sia-sia di atas mistar Josep Martinez.
Dan seperti hukum sepak bola yang kejam: gagal mencetak gol, bersiaplah dihukum.
Sepuluh menit sebelum jeda, Inter menyengat.
Debutan Issiaka Kamate beraksi di sisi kanan, menciptakan ruang, lalu mengirimkan umpan silang mematikan. Bonny menyambutnya dengan sundulan keras. Paleari tak berkutik. 0-1.
Belum sempat Torino bangkit, Inter kembali menghantam. Baru dua menit babak kedua berjalan, Marcus Thuram menarik pertahanan, mengulur bola ke belakang, dan Diouf tinggal menyelesaikan peluang termudah malam itu. 0-2. Ding. Dong. Inter kejam.
Torino mencoba melawan. Njie, Vlasic, dan Tamèze datang bergelombang. Akhirnya, menit ke-57, harapan itu hidup. Kulenovic, pinjaman dari Dinamo Zagreb, menyundul umpan Marcus Pedersen yang terdefleksi—gol pertama, dan mungkin yang terpenting, dalam seragam Granata. 1-2.
Namun lebih dari itu tak pernah datang.
Inter kembali menguasai panggung.
Tendangan Davide Frattesi pada menit ke-65 memaksa Paleari bekerja keras. Gol penyama Prati di menit ke-74? Dianulir. Offside. Mimpi selesai.
Peluit panjang berbunyi. Inter melangkah mantap ke semifinal. Sementara Torino? Menurut ESPN, kekalahan ke-14 dalam 15 laga terakhir melawan Inter. Statistik yang menyakitkan. Dominasi yang tak terbantahkan.
Inter terus hidup. Coppa Italia kini menunggu korban berikutnya.(maq)










