edisiana.com – Musim ini berubah menjadi mimpi buruk bagi Oxford United, klub milik Erik Thohir. Sabtu malam yang diharapkan menjadi titik balik justru berakhir dengan tamparan keras.
Bermain di kandang sendiri, Stadion Kassam, U’s kembali tumbang, kali ini dari Preston North End, dan hasil itu menyeret mereka semakin dalam ke zona degradasi Championship.
Oxford kini terdampar di posisi ke-22 klasemen, hanya mengoleksi empat kemenangan, tujuh hasil imbang, dan 10 kekalahan. Angka-angka yang mengkhawatirkan. Jika tak segera bangkit, ancaman terjun ke divisi bawah bukan lagi sekadar bayangan.
Padahal, optimisme sempat membumbung tinggi. Menurut BBC, sejarah berpihak pada tuan rumah: enam kemenangan dari 10 pertemuan terakhir melawan Preston. Namun sepak bola tak mengenal nostalgia.
Preston membuka keunggulan lewat skenario bola mati. Storey, yang ikut naik saat tendangan sudut, tetap berada di kotak penalti setelah bola sempat dihalau.
Thierry Small mengirimkan umpan silang jauh ke tiang jauh—dan bek jangkung itu menanduk bola melewati sela kaki Jamie Cumming. Kassam terdiam.
Oxford mencoba bangkit. Tekanan demi tekanan dilepaskan. Namun blok krusial Storey dan Harrison Armstrong—bahkan dua kali—mematahkan harapan.
Saat gol seakan tinggal menunggu waktu, Iversen tampil luar biasa, melakukan penyelamatan refleks kelas dunia untuk menggagalkan sundulan Ciaron Brown.
Awal babak kedua memberi secercah asa. Pemain pengganti Stan Mills mengirimkan umpan matang ke Nik Prelec, namun striker Slovenia itu gagal memaksimalkannya.
Dan seperti hukum keras sepak bola: gagal mencetak gol, bersiaplah dihukum. Preston kembali menusuk. Alfie Devine bermain satu-dua dengan Lewis Dobbin, menarik bola ke belakang, dan Jebbison tanpa ragu menceploskan bola. 0-2.
Oxford tak menyerah. Empat menit berselang, mereka membalas. Kesalahan Andrew Hughes dimanfaatkan dengan dingin oleh De Keersmaecker, yang menyelesaikan peluang dari tepi kotak penalti. Harapan kembali menyala.
Namun Preston bertahan mati-matian. Iversen kembali jadi tembok, menepis voli keras Will Vaulks, sebelum sundulan Will Lankshear menghantam mistar. Nasib tak berpihak pada Oxford malam itu.
Peluit akhir berbunyi. Kekalahan lagi. Zona degradasi semakin nyata. Oxford United kini di persimpangan jalan: bangkit sekarang, atau tenggelam lebih dalam.(maq)











