edisiana.com – UEFA resmi memutuskan bahwa Crystal Palace tidak dapat ambil bagian dalam Liga Konferensi Eropa musim depan karena pelanggaran aturan kepemilikan multi-klub. Keputusan ini memicu kekecewaan dari pihak klub, yang menyebutnya sebagai ketidakadilan besar.
Dalam pernyataan resminya, UEFA menjelaskan bahwa peraturan mereka melarang klub-klub dengan kepemilikan yang sama atau berada di bawah pengaruh entitas yang sama untuk tampil dalam kompetisi Eropa yang sama.
Crystal Palace gagal memenuhi tenggat waktu 1 Maret 2025 untuk merestrukturisasi kepemilikan agar mematuhi aturan tersebut.
Crystal Palace dimiliki sebagian oleh pengusaha asal Amerika Serikat, John Textor, yang juga merupakan pemilik mayoritas klub Prancis, Olympique Lyonnais. Kedua klub sama-sama lolos ke kompetisi Eropa musim depan—Palace ke Liga Konferensi dan Lyon ke Liga Europa.
Palace berargumen bahwa Textor tidak memiliki pengaruh yang menentukan dalam operasional klub. Namun argumen itu ditolak UEFA. Akibatnya, Palace dicoret dari daftar peserta, dan tempat mereka berpotensi akan diisi oleh Nottingham Forest, yang finis di peringkat ketujuh Liga Premier musim lalu.
Ketua Palace, Steve Parish, mengecam keputusan UEFA sebagai “ketidakadilan yang mengerikan”.
“Ini hari yang buruk bagi sepak bola. Kami telah didepak dari kompetisi Eropa karena alasan teknis yang paling konyol. Para pendukung semua klub seharusnya bersedih untuk kami,” ujar Parish.
Ia juga menyatakan bahwa Palace bukan bagian dari jaringan klub multi-kepemilikan.
“Kami tidak berbagi staf, kami tidak berbagi struktur. Kami hanya terjebak dalam aturan yang tidak dibuat untuk kami,” tegasnya. “Saya yakin UEFA juga tidak ingin melihat ini terjadi.”
Crystal Palace masih memiliki opsi untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Parish memastikan klub akan menempuh jalur tersebut untuk memperjuangkan hak mereka.(maq)











