edisiana.com – Ronald Koeman mengatakan dia memahami keluhan Xavi Hernandez dalam menangani raksasa Catalan, dan mencatat kesulitan yang muncul akibat situasi politik di klub.
Xavi telah berbicara secara terbuka tentang tidak menikmati kehidupan sehari-hari sebagai pelatih kepala Barca dan merasa kurang dihargai atas pencapaiannya. Karena itu dia pada akhir musim ini mundur dari Barcelona.
“Saya memahami Xavi. Dalam kasus saya, dibandingkan dengan Xavi, saya memiliki konflik dengan presiden [Joan Laporta]. Dalam kasusnya, sebagai orang Catalan dan anak klub, dia juga menyadari bahwa menjadi pemain adalah hal yang sangat berarti. Lebih menyenangkan dan indah daripada menjadi pelatih,” kata Koeman seperti dilansir ESPN pada hari ini.
“Saya lebih menderita karena tekanan dan stres. Itu pekerjaan tersulit yang pernah saya lakukan,” tambah pelatih asal Belanda itu.
Koeman, yang kini menjadi manajer tim nasional Belanda, menambahkan media eksternal dan bias internal di Barca semakin memperumit pekerjaan tersebut.
“Dengan segala hormat, Xavi pernah menjadi pelatih di Qatar. Lalu dia bergabung dengan Barcelona. Di sana segalanya akan ada di tangan Xavi,” ucapnya lagi.
“Dia selalu dipuji tapi sekarang dia juga melihat sisi lain. Media menodongkan ke dia dan situasi politik di klub juga tidak bagus. Masalahnya terletak pada pimpinan klub,” jelasnya.
Koeman mengaku belum pernah mengalami gangguan mental sejak dia melatih klub kecuali di Barça.
“Tidak menyenangkan ketika anak-anak menangis ketika kalah. Kemudian juga merasakannya perkataan kasar, itu keluar,” tutur dia.
Barca berada di urutan ketiga di LaLiga, delapan poin di belakang pemimpin klasemen Real Madrid. Madrid akan menghadapi tim peringkat kedua Girona pada hari Sabtu mendatang. Sedangkan Barca menjamu Granada pada hari Minggunya.(maq)
Koeman: Politiknya Tidak Bagus, Jadi Pelatih Barcelona Lebih Stres











