edisiana.com – Oxford United kembali tergelincir ke jurang degradasi. Harapan yang sempat menyala padam di Swansea. Satu sundulan, satu vonis. Zan Vipotnik.
Swansea City meraih kemenangan krusial atas sesama pejuang hidup-mati di Championship. Bermain di kandang sendiri, The Swans cukup satu gol untuk mengamankan tiga poin mahal. Pelakunya adalah Vipotnik, striker Slovenia yang sedang panas.
Menit ke-14. Bola melayang. Vipotnik meloncat. Sundulan. Gol. Itu adalah gol ketiganya dalam empat laga terakhir—angka yang berbicara lantang. Setelah itu?
Swansea mengontrol segalanya. Tenang, disiplin, tanpa panik. Oxford? Tumpul dan kehilangan arah, terlebih bermain tanpa manajer.
Kemenangan ini punya makna ganda bagi Swansea. Ini adalah kemenangan tandang pertama sejak September, sekaligus memutus kutukan lima kekalahan beruntun di laga luar kandang. Akhir dari penantian panjang.
Pasukan Vitor Matos pun bernapas lega. Mereka naik ke peringkat 18 klasemen, kini berjarak tujuh poin dari zona merah. Empat kemenangan dari enam laga terakhir—Swansea menemukan denyut nadinya di saat yang tepat.
Sebaliknya, Oxford kembali terjerembap. Momentum besar usai kemenangan sensasional atas Southampton tak mampu mereka jaga. Melansir BBC, tanpa Gary Rowett, tanpa stabilitas, Oxford kembali tergelincir ke zona degradasi.
Championship kejam. Hari ini pahlawan, besok korban. Swansea tersenyum. Oxford kembali cemas.(maq)










