edisiana.com – Tottenham Hotspur kembali memperlihatkan wajah paling rapuhnya. Di kandang sendiri mereka justru makin hancur, tumbang 1-2 dari Fulham—yang sekaligus mencatat kemenangan tandang pertama musim ini. Sebuah tamparan keras yang terdengar hingga ke seluruh London Utara.
Kenny Tete, setelah hampir dua tahun tanpa gol, membuka keruntuhan Spurs. Sebuah tembakan dari tepi kotak yang sempat membentur pemain, mengecoh Vicario, dan masuk. Gol yang seperti simbol: Tottenham mudah goyah.
Dan jika gol pertama itu luka, maka gol kedua adalah bencana total. Vicario keluar jauh dari kotak, gagal menguasai bola, dan Harry Wilson dengan elegan mengirimkan bola melengkung ke gawang kosong dari jarak 35 yard. Tottenham kaget, stadion terdiam, Fulham tertawa.
Spurs benar-benar terseok-seok di babak pertama. Samuel Chukwueze bahkan hampir menambah kehancuran ketika tembakannya menghantam tiang. Fulham bisa saja membungkus laga ini lebih cepat.
Usai jeda, tuan rumah mencoba bangkit. Asuhan Thomas Frank—yang disebut-sebut membawa energi baru—mendapat secercah harapan lewat tendangan voli sensasional Mohammed Kudus ke pojok atas.
Gol kelas dunia, tapi hanya satu. Karena setelah itu? Spurs kembali tumpul, tak mampu menekan, dan akhirnya…
Cemoohan. Sorakan sinis. Fans memprotes timnya sendiri hingga peluit akhir.
Krisis bukan lagi bayangan. Menurut BBC, Spurs terjerembap di posisi ke-10, hanya satu poin di atas Fulham yang berada di posisi ke-15. Jarak dengan papan atas makin jauh, tekanan makin berat, dan atmosfer di klub kini sudah mendidih.
Tottenham butuh respons cepat—karena hari ini, mereka kembali memperlihatkan wajah tim yang kehilangan arah.(maq)










