edisiana.com – Klub juru kunci klasemen, Wolverhampton Wanderers, membuat kejutan besar. Di Stadion Molineux, Wolves menghantam ambisi empat besar Aston Villa lewat kemenangan meyakinkan 2-0, Sabtu ini.
Villa sebenarnya membuka laga dengan tempo menjanjikan. Peluang demi peluang sempat tercipta di awal babak pertama. Namun, ketajaman yang biasanya menjadi andalan justru tumpul.
Seiring waktu berjalan, performa tim tamu merosot drastis. Intensitas turun, koordinasi lini depan pun kehilangan tajinya.
Petaka datang tepat selepas satu jam pertandingan. Wolves yang sebelumnya lebih banyak menunggu justru mampu mencuri momentum. Tembakan tepat sasaran pertama mereka langsung berbuah gol.
Bermula dari perebutan bola di lini tengah, Jackson Tchatchoua mendapat ruang terlalu longgar di sisi kanan. Ia dengan leluasa mengirim umpan silang terukur. Bola kemudian diteruskan Adam Armstrong kepada Rodrigo Gomes yang berdiri bebas.
Tanpa kesulitan berarti, Gomes menaklukkan Emiliano Martínez dengan sepakan terarah ke sudut atas gawang. Molineux pun bergemuruh.
Tertinggal satu gol, Villa tersentak. Pasukan Unai Emery mencoba menekan dalam 30 menit terakhir. Peluang terbaik hadir lewat Ian Maatsen.
Bek kiri itu melepaskan tembakan keras, tetapi arahnya terlalu lurus sehingga mudah diamankan kiper Wolves, José Sá.
Drama memuncak pada menit ketujuh masa injury time. Bola liar jatuh di kaki Amadou Onana di dalam kotak penalti. Stadion sempat terdiam. Namun refleks cepat Sá membuat bola berubah arah tipis.
Mosquera sigap menyapu si kulit bundar tepat di garis gawang. Kesempatan emas Villa pun menguap.
Alih-alih menyamakan skor, Villa justru kembali kebobolan di penghujung laga. Wolves melancarkan serangan balik cepat.
Rodrigo Gomes lagi-lagi menjadi momok. Dari jarak sekitar 12 yard, ia dengan tenang menuntaskan peluang dan memastikan kemenangan 2-0.
Hasil ini memang tak banyak mengubah nasib Wolves di papan bawah. Namun, melansir ESPN, kemenangan atas tim pemburu tiket Liga Champions menjadi suntikan moral besar. Perayaan liar pecah di Molineux selepas peluit akhir.
Sebaliknya, Emery berjalan cepat menuju terowongan pemain. Raut wajahnya sulit menyembunyikan kekecewaan. Empat besar yang sudah di depan mata kini kian menjauh.(maq)











