edisiana.com – Liverpool kembali memamerkan sisi paling kelamnya—dan kali ini di panggung yang paling sakral: Anfield.
The Reds dihajar 1-4 oleh PSV dalam malam yang berubah menjadi mimpi buruk, memperpanjang rentetan kegagalan yang kini resmi menjadi periode terburuk klub dalam 71 tahun.
Sembilan kekalahan dalam 12 laga.
Tiga kekalahan beruntun di semua kompetisi. Kalah selisih tiga gol di Anfield untuk pertama kali sejak Desember 1953.
Tujuh gol bersarang di gawang mereka hanya dalam lima hari.
Ini bukan sekadar statistik. Ini alarm keras yang menggetarkan dinding-dinding stadion yang dulu dianggap benteng tak tertembus.
Curtis Jones, salah satu pemain yang paling vokal, bahkan tak mampu menahan kekecewaannya.
“Sejujurnya, saya tidak punya jawabannya. Ini tidak bisa diterima.Aku sudah melewati rasa marah. Aku sudah tak punya kata-kata,” ujar sang gelandang, dikutip dari BBC pada hari ini.
Dan bagaimana mungkin fans tidak terpukul? Baru beberapa bulan lalu, Liverpool seperti hidup dalam dongeng—Arne Slot datang, memimpin dengan energi baru, mempersembahkan gelar liga ke-20 yang menyamai rekor.
Sekarang? Tim yang sama terlihat kehilangan arah, kehilangan intensitas, kehilangan identitas.
Tekanan pada Slot mulai terasa menyesakkan. Taktik yang dulu segar, kini terasa usang. Rotasi yang dulu dipuji, kini dipertanyakan.
Mantan bek sayap Liverpool, Stephen Warnock, tidak menahan diri: “Saat ini segalanya tidak berjalan lancar dan semuanya terasa sangat sulit,” terangnya.
“Kekalahan terus bertambah… semuanya semakin buruk. Ada kurangnya semangat juang yang terlihat—dan itu yang paling sulit untuk ditonton,” imbuhnya.
Di Merseyside, ada rasa takut yang belum muncul sejak era 1950-an.
Liverpool tidak hanya kalah—mereka runtuh. Dan jika Arne Slot tidak menemukan tombol reset dengan cepat, musim ini bisa berubah menjadi mimpi paling mengerikan dalam sejarah modern klub.(maq)











