edisiana.com – Di tengah atmosfer Eropa yang membara, Celtic menulis satu bab kemenangan yang manis. Namun pahit pada saat bersamaan.
Kemenangan 1-0 atas VfB Stuttgart pada Kamis malam tak cukup untuk menyelamatkan langkah mereka di babak play-off knockout UEFA Europa League. Agregat berkata lain. Tiket berikutnya bukan milik mereka.
Datang ke Jerman, dengan banyak perubahan setelah kekalahan 4-1 pekan lalu, Celtic justru tampil tanpa rasa takut.
Baru 28 detik laga berjalan, stadion terdiam. Luke McCowan menyambar kesempatan dan mengirim bola ke gawang. Gol kilat.
Tuan rumah sempat merasa menyamakan kedudukan. Chris Fuhrich mencetak gol — dianulir. Offside. Deniz Undav melakukan hal serupa — lagi-lagi offside.
Dua selebrasi yang terhenti. Dua harapan yang runtuh oleh bendera hakim garis. Celtic selamat.
Babak kedua menjadi milik Stuttgart. Tekanan datang bertubi-tubi. Crossing, tembakan jarak jauh, duel fisik — semua diarahkan ke pertahanan Celtic.
Namun di bawah mistar, Viljami Sinisalo tampil penuh keyakinan. Menggantikan Kasper Schmeichel yang diistirahatkan, ia mencatatkan clean sheet yang bernilai emas. Kepercayaan diri? Jelas meningkat.
Celtic bertahan dengan disiplin. Dengan keberanian. Dengan keyakinan. Dan yang tak kalah penting, manajer Martin O’Neill bisa menyimpan banyak pemain kunci untuk pertempuran domestik berikutnya.
(maq)










