edisiana.com – Boxing Day kembali membawa ironi pahit bagi Arsenal. Angka-angka berbicara lantang, dan statistik ini kejam: The Gunners tidak pernah menjuarai Premier League saat mereka berada di puncak klasemen pada Natal dan Tahun Baru.
Sejarah mencatat luka pertama pada musim 2002-03. Arsenal membiarkan keunggulan besar—sekitar delapan poin—menguap begitu saja, direbut perlahan namun pasti oleh Manchester United.
Luka itu kembali terbuka pada 2007-08, ketika skenario yang hampir identik terulang.
Dan yang paling segar di ingatan publik Emirates: 2022-23 dan 2023-24. Harapan tinggi, pujian mengalir, namun akhir cerita selalu sama—kekecewaan.
Yang lebih mencengangkan, tren ini bahkan lebih tua dari era Premier League itu sendiri. Menurut Opta Analysis, Arsenal gagal menjuarai liga dalam tujuh kesempatan terakhir ketika mereka memimpin klasemen tepat pada tanggal 25 Desember.
Untuk menemukan terakhir kalinya Arsenal benar-benar menuntaskan musim sebagai juara setelah memimpin di hari Natal, kita harus mundur sejauh musim 1947-48. Hampir delapan dekade lalu.
Artinya jelas: berada di puncak saat Natal dn tahun baru tidak menjamin apa pun.
Faktanya, dari 126 musim divisi teratas Inggris sejak 1888, hanya 56 kali pemuncak klasemen di Hari Natal yang akhirnya mengangkat trofi. Itu bahkan tidak mencapai setengahnya—hanya 44 persen.
Di era Premier League saja, statistiknya sedikit lebih baik namun tetap tak meyakinkan: 17 dari 33 tim (51,5 persen) yang memimpin saat Natal akhirnya menjadi juara.
Dan Arsenal bukan satu-satunya korban ilusi keunggulan. Sejarah juga mengingat tragedi besar Newcastle United 1995-96. Pada malam Natal, pasukan Kevin Keegan unggul 10 poin dari Manchester United dan terlihat tak terkejar.
Dua hari kemudian, mereka kalah 2-0 dari Setan Merah. Keunggulan sempat melebar lagi, sebelum Sir Alex Ferguson memainkan permainan pikiran legendarisnya.
“Saya akan senang jika kita mengalahkan mereka,” kata Keegan, dikutip Daily Mail.
Mereka tidak melakukannya. Dan United melakukan comeback hampir mustahil untuk merebut trofi.
Maka pesan sejarah sangat jelas: tidak ada jaminan Arsenal akan mengakhiri puasa gelar Premier League yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun musim ini.
Namun jangan salah. Mikel Arteta bukan sosok naif. Pelatih asal Spanyol itu sadar betul akan bayang-bayang masa lalu. Pekan lalu, ia bahkan ditanya langsung tentang arti memimpin klasemen setelah 18 pertandingan.
Jawabannya? Tenang. Terkontrol. Seolah berkata: sejarah boleh berbicara—tetapi Arsenal ingin menulis ulang takdirnya sendiri.
Pertanyaannya sekarang hanya satu:
akankah boxing day kali ini menjadi kutukan… atau awal penebusan?(maq)









