edisiana.com – Lima tahun sejak kepergian Diego Maradona, napas legenda itu kembali mengalir di Stadion Diego Armando Maradona.
Suasana bergemuruh, lampu-lampu bergetar, dan pada menit ke-10—sesuai nomor punggung sang Dewa Bola—nama MARADONA! diteriakkan ribuan tifosi Napoli hingga langit Naples bergetar.
Di tengah atmosfer magis itu, Napoli tampil agresif menghadapi Qarabag dalam laga Liga Champions yang dipenuhi emosi.
Antonio Conte melihat timnya mendapat peluang emas ketika Giovanni Di Lorenzo dijatuhkan di kotak penalti pada menit ke-56. Namun keberuntungan seolah berkhianat—Højlund maju sebagai algojo, tapi Kochalski terbang ke kiri dan menepis bola dengan penyelamatan kelas dunia.
Namun momen itu justru membangunkan sang pahlawan baru: Scott McTominay. Gelandang pekerja keras itu bereaksi paling cepat terhadap bola muntah dan menyundul masuk gol pembuka.
Stadion pecah. Spirit Maradona seakan merayap turun dari tribun. Setelah gol itu, Napoli tak berhenti menggempur.
Højlund menyundul melebar dalam posisi bebas, sementara David Neres membuat mistar gawang Qarabag bergetar kencang. Tekanan tanpa henti berujung kekacauan: sepakan McTominay yang melenceng justru dibelokkan Jankovic ke gawangnya sendiri—2-0, Napoli mengamuk di malam penghormatan sang legenda.
Kemenangan ini sangat berarti. Napoli, yang sebelumnya hanya menang sekali dari empat laga pembuka liga, kini merangkak naik ke peringkat 18 dengan tujuh poin. Qarabag terperosok ke posisi 16 meski sama-sama mengoleksi tujuh angka.
Melansir BBC, di laga penentuan nanti, 10 Desember, Napoli akan bertandang ke Lisbon menghadapi Benfica asuhan José Mourinho, sementara Qarabag menjamu Ajax pada hari yang sama.
Malam untuk Maradona. Malam untuk Napoli. Dan malam ketika McTominay menyalakan kembali api Partenopei.(maq)










