Kisah Ousmane Dembélé Raih Ballon d’Or (Bagian-2): Dari Bayang-Bayang Mbappé ke Panggung Utama

Dembele saat remaja bersama rekannya. Foto: via Daily Mail

edisiana.com – Kepindahan Ousmane Dembélé ke Paris Saint-Germain pada 2023 tak lepas dari faktor persahabatan. Hubungannya yang erat dengan Kylian Mbappé menjadi salah satu alasan kuat ia memilih kembali ke tanah kelahiran, bergabung dengan proyek ambisius di ibu kota Prancis.

Namun setahun kemudian, saat Mbappé akhirnya bergabung dengan Real Madrid pada 2024, ruang yang semula tertutup bagi Dembélé tiba-tiba terbuka lebar. Untuk pertama kalinya, ia tak lagi berdiri di bawah bayang-bayang siapa pun. Kini, ia adalah bintang utama PSG — dan, seiring waktu, Prancis.

Julien Laurens, pengamat sepak bola Prancis, menyebut bahwa Dembélé memang selalu merupakan “permata mentah” yang hanya perlu dipoles dengan cara yang tepat. Dan menurutnya, itulah yang berhasil dilakukan pelatih Luis Enrique di PSG.

“Ketika Enrique meninggalkannya di rumah untuk pertandingan melawan Arsenal, itu justru menguntungkan Ousmane,” kata Laurens kepada Daily Mail Sport. “Itu adalah titik balik. Sebuah aksi tegas dari Enrique, tapi juga katalis penting bagi kebangkitan Dembélé.”

BACA JUGA:  Ronaldo Antar Portugal ke Final Nations League Usai Kalahkan Jerman 2-1

Dari situlah segalanya berubah. Salah satu momen kunci musim ini adalah ketika Enrique memindahkan posisinya — dari sayap ke tengah, menjadikannya false nine atau penyerang tengah dalam sistem yang lebih cair.

Meski sejak muda Dembélé dikenal sebagai pemain sayap eksplosif, beberapa pelatih lamanya, termasuk Rolland Courbis dari Rennes, telah lama melihat potensi besar Dembélé sebagai pemain nomor 9 atau 10.

“Karena ia sangat cepat dan berbakat secara teknis, orang-orang cenderung menaruhnya di sayap,” ujar Courbis dalam wawancara terdahulu seperti dinukil dari Daily Mail. “Tapi dia punya insting dan visi yang membuatnya layak bermain di tengah.”

Keputusan Enrique untuk membangun tim di sekeliling Dembélé terbukti jadi game-changer, bukan hanya bagi sang pemain, tapi juga bagi PSG secara keseluruhan.

BACA JUGA:  Liverpool Memburu Gelar Tidak Segugup Musim Lalu

“Jika kita melihat pertandingan melawan Arsenal sebelumnya, dia adalah pemain yang sama sekali berbeda dan mereka adalah tim yang berbeda,” tegas Laurens.

Performa Dembélé terus menanjak sepanjang musim. Dengan kepercayaan diri yang tumbuh dan tanggung jawab yang makin besar, ia menjelma menjadi motor serangan PSG, pemain yang kini tak hanya bermain dengan kaki kiri atau kanan — tapi juga dengan otak dan hati.

Bagi mereka yang mengenalnya sejak remaja, hal ini bukanlah kejutan. Ada cuplikan dari masa mudanya di Rennes yang kini kembali viral. Dalam sebuah wawancara, Dembélé muda ditanya mengapa ia mengambil penalti dengan kaki kanan.

“Karena saya lebih baik menendang dengan kaki kanan,” jawabnya polos, padahal ia dikenal sebagai pemain kidal.

Itulah Dembélé — seorang yang dua kaki, dua wajah, dan kini dua sisi kehidupan: dari anak muda yang sembrono menjadi pria dewasa yang meraih kejayaan tertinggi dalam sepak bola.

BACA JUGA:  Istri Kane Mencari Rumah di Munich

Dengan gelar Ballon d’Or di tangannya, ia menambah daftar panjang pemenang asal Prancis yang pernah mencapai titik ini. Sebelumnya ada Raymond Kopa (1958), Michel Platini (1983–1985), Jean-Pierre Papin (1991), Zinedine Zidane (1998), dan Karim Benzema (2022).

Kini Dembélé bergabung dalam daftar elit tersebut — menjadikan Prancis sebagai negara dengan jumlah pemenang Ballon d’Or terbanyak sepanjang sejarah.(maq/habis)