edisiana.com – AC Milan dan Inter Milan, dua raksasa Serie A yang sudah lebih dari seabad saling menatap dengan mata penuh bara, kembali bertemu di Derby della Madonnina. Di San Siro, pertandingan yang bukan sekadar soal tiga poin, melainkan soal identitas, harga diri, dan supremasi kota mode.
Musim ini, duel menjadi semakin panas. Massimiliano Allegri, sang pelatih veteran yang kembali membawa stabilitas ke Rossoneri, berhadapan dengan Cristian Chivu, pelatih baru Inter yang tengah diuji kredibilitasnya di panggung elite.
Inter memasuki laga dengan duduk di posisi ketiga klasemen, hanya beberapa hari sebelum menghadapi Atlético Madrid di Liga Champions.
Namun sebelum terbang ke ibu kota Spanyol, mereka harus menuntaskan “urusan rumah tangga”: derby Milan pertama musim ini. Sebuah derby yang datang tepat ketika dominasi mereka mulai merosot.
Musim lalu menyisakan luka untuk Nerazzurri: tiga kekalahan dalam lima derby. Bahkan untuk menyelamatkan satu poin terakhir kali di liga, mereka butuh gol telat Stefan De Vrij dalam drama 1-1 pada Februari.
Di sisi lain, Milan membawa memori manis dari tahun 2024. Mereka menghentikan rangkaian kekalahan panjang di derby dengan kemenangan 2-1 pada September, lalu meraih dua kemenangan besar lainnya.
Supercoppa Italiana dan semifinal Coppa Italia dua leg. Di tengah tahun penuh kekacauan, derby menjadi satu-satunya sinar bagi para Milanisti.
Kini, dengan Allegri di pucuk komando, Rossoneri tampil lebih stabil. Namun mereka datang ke derby dengan sedikit rasa penyesalan.
Tepat sebelum jeda, Milan gagal mengamankan posisi puncak Serie A setelah membuang keunggulan dua gol di Parma, meski Alexis Saelemaekers dan Rafael Leão sempat membawa mereka memimpin.
Hasil imbang itu membuat mereka turun ke posisi ketiga—dua poin di belakang Inter dan Roma—namun tetap menjadi pesaing serius Scudetto. Tanpa kompetisi Eropa yang menguras energi, Milan justru sedang membangun momentum: 10 laga tak terkalahkan di Serie A dan Coppa Italia.
Derby ini bukan sekadar pertandingan. Ini adalah deklarasi ambisi.Untuk Chivu, ini ujian terbesar sejak duduk di bangku Inter.
Untuk Allegri, ini kesempatan menegaskan bahwa Milan kembali.
San Siro menanti. Dua warna, satu kota, satu malam penuh api.(maq)











