edisiana.com – Untuk pertama kalinya sepanjang karier manajerialnya, Pep Guardiola menerapkan taktik defensif ekstrem—yang sering dijuluki “parkir bus” saat Manchester City bertandang ke markas Arsenal di Emirates Stadium, London.
Sayangnya, strategi langka ini gagal sepenuhnya membuahkan hasil setelah gol penyeimbang di menit akhir dari Gabriel Martinelli membuat laga berakhir 1-1, Minggu kemarin.
Manchester City sempat unggul cepat ketika Erling Haaland mencetak gol pada menit ke-9, memanfaatkan umpan terobosan dari gelandang anyar mereka, Tijjani Reijnders. Gol tersebut tampak membuka jalan bagi City untuk mendominasi seperti biasanya.
Namun yang terjadi justru di luar kebiasaan. Setelah mencetak gol, City perlahan mulai bermain pasif. Mereka mengandalkan blok rendah dan serangan balik—berbanding terbalik dari gaya menyerang agresif yang biasanya identik dengan Guardiola.
Data mencatat City hanya menguasai bola sebanyak 30 persen sepanjang pertandingan, angka terendah dalam 601 pertandingan liga yang pernah dipimpin Guardiola di berbagai klub. Biasanya, tim asuhannya memiliki penguasaan bola di kisaran 65–75 persen.
Komentar Guardiola dan Ketegangan di Lapangan
Usai laga, Pep Guardiola mengaku bahwa taktik tersebut bukanlah rencana utama. “Kami tidak mencoba seperti ini, tetapi ketika lawan lebih baik, kami bertahan lebih dalam dan melakukan serangan balik – tetapi itu bukan niat kami,” ujarnya kepada BBC pada Senin ini.
Strategi bertahan tersebut nyaris berhasil. Selama 92 menit, Arsenal gagal membobol pertahanan City meski mendominasi permainan.
Namun semua rencana itu runtuh ketika Gabriel Martinelli mencetak gol penyeimbang pada menit ke-93, membuat publik Emirates bergemuruh.
Mantan pemain dan analis sepak bola, Gary Neville, juga menyoroti pendekatan tak biasa Guardiola dalam laga ini. “Dia (Pep) memutuskan sekitar 25 atau 30 menit menjelang akhir permainan untuk menggunakan taktik ini—dan dia hampir berhasil,” ujar Neville.
Meski gagal membawa pulang tiga poin, laga ini menunjukkan fleksibilitas taktik Pep Guardiola. Vahkan jika itu berarti meninggalkan filosofi bermain menyerang yang sudah melekat pada dirinya selama lebih dari satu dekade.
City tetap menunjukkan mentalitas juara meskipun harus puas dengan hasil imbang.(maq)







