edisiana.com – Tim asuhan Ange Postecoglou menutup musim yang penuh gejolak dengan meraih gelar Liga Eropa, mengakhiri penantian panjang selama 17 tahun. Gol tunggal Brennan Johnson cukup untuk menundukkan Manchester United dalam laga final yang digelar di Stadion San Mames, Bilbao.
Meski mendapat dukungan penuh dari pemilik klub, keputusan pelatih United, Ruben Amorim, untuk memainkan Mason Mount daripada Alejandro Garnacho di lini serang terbukti tidak efektif.
Ditambah lagi, performa kapten Bruno Fernandes yang tampil di bawah standar membuat United kehilangan daya juang untuk bangkit setelah tertinggal lebih dulu.
United sebenarnya nyaris menyamakan kedudukan melalui sundulan Rasmus Højlund, yang memanfaatkan kesalahan kiper Guglielmo Vicario. Namun, bola berhasil diselamatkan secara heroik oleh Micky van de Ven tepat di garis gawang pada pertengahan babak kedua.
Vicario kemudian kembali menjadi pahlawan dengan melakukan penyelamatan dramatis atas sundulan Luke Shaw di menit-menit akhir pertandingan.
Dalam pidato sebelum laga, Postecoglou menegaskan bahwa dirinya “tidak akan pernah menjadi badut”, sebuah pernyataan yang menggugah semangat para pemain dan mengundang senyum lebar dari 15.000 pendukung resmi Spurs, serta banyak penggemar tidak resmi yang memadati stadion di Bilbao.
Meski kemenangan ini belum tentu menyelamatkan masa depan Postecoglou bersama Spurs, pelatih asal Australia itu telah mengukir namanya bersama legenda klub seperti Bill Nicholson dan Keith Burkinshaw sebagai peraih trofi Eropa untuk Tottenham Hotspur.
Selain gelar, kemenangan ini juga membawa berkah finansial bagi Spurs, dengan bonus sekitar £100 juta berkat kelolosan mereka ke Liga Champions musim depan.
Tottenham kini bergabung dengan Newcastle dan Crystal Palace sebagai contoh klub yang sukses memaksimalkan musim penuh kejutan untuk meraih kejayaan.
Sementara itu, kekalahan ini meninggalkan banyak pertanyaan bagi Manchester United. Ruben Amorim kini menghadapi tekanan besar menjelang laga terakhir Liga Primer melawan Aston Villa akhir pekan ini.
Musim ini tercatat sebagai musim terburuk Setan Merah sejak mereka terdegradasi pada 1973–74, dan masa depan sang pelatih tampak kian tidak pasti.(maq)










