edisiana.com – Butuh 77 menit penuh penderitaan bagi Chelsea untuk menjebol pertahanan Pafos, tim kecil asal Siprus yang baru mencicipi panggung Liga Champions. Skor akhir? Hanya 1-0. Terlalu tipis untuk tim sekelas Chelsea.
Rabu malam, 21 Januari nyaris berubah menjadi malam memalukan bagi The Blues. Menghadapi debutan kompetisi, Chelsea tampil frustran, gugup, dan nyaris tak berdaya.
Sebenarnya Enzo Fernández sempat membuat publik London bersorak di menit ke-17. Namun kegembiraan itu hanya fatamorgana.
Sundulannya dianulir wasit karena dianggap mendorong Derrick Luckassen. Keputusan yang langsung menambah ketegangan di stadion.
Lebih buruk lagi, beberapa saat sebelumnya justru Pafos yang hampir membuka skor. Serangan balik kilat mereka berakhir dengan tembakan Jaja yang membentur tiang gawang. Chelsea selamat—untuk sementara.
Menjelang turun minum, peluang emas kembali terbuang. Bek Chelsea Jorrel Hato gagal menaklukkan kiper Pafos, Jay Gorter, yang tampil luar biasa dan menjadi tembok kokoh sepanjang laga.
Masuk babak kedua, Estevao Willian, penyerang remaja penuh janji, menggantikan Reece James. Tujuh menit berselang, ia menyulut stadion dengan voli spektakuler—sebuah momen yang akhirnya membangunkan Chelsea dari tidur panjangnya.
Tak lama kemudian, Moisés Caicedo memastikan kemenangan yang sangat dibutuhkan. Namun euforia itu tetap terasa hambar.
Menurut BBC, Chelsea kini wajib menang di kandang Napoli pada laga terakhir jika ingin finis di delapan besar. Jika gagal, mereka harus bersiap menjalani dua laga play-off tambahan di fase liga 36 tim—hukuman bagi performa yang terlalu sering setengah-setengah.
Chelsea menang.Tapi malam ini, Pafos mencuri sorotan.(maq)











