edisiana.com — Laga antara Real Madrid dan Osasuna pada Rabu kemarin di Santiago Bernabéu kembali memunculkan kontroversi besar di La Liga. Osasuna merasa dirugikan setelah wasit memberikan penalti kontroversial kepada tuan rumah dan mengusir salah satu pemain mereka, Abel Bretones, di akhir pertandingan.
Sayangnya, banding yang diajukan klub asal Navarra itu kepada Komite Kompetisi juga ditolak.
Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Real Madrid itu penuh dengan momen-momen yang dipertanyakan. Salah satunya adalah hadiah penalti untuk Los Blancos yang disebut-sebut terlalu ringan dan tidak didukung bukti kuat dari tayangan ulang.
Tak hanya itu, Osasuna harus bermain dengan sepuluh orang setelah Bretones menerima kartu merah langsung akibat pelanggaran terhadap Gonzalo García — pelanggaran yang menurut klub tidak terekam dengan jelas oleh kamera pertandingan.
Osasuna kemudian mengajukan banding atas kartu merah tersebut, berharap hukuman larangan bermain dua pertandingan bagi Bretones dapat dibatalkan.
Namun, menurut Mundo Deportivo, Komite Kompetisi menolak banding tersebut dengan alasan bukti yang diajukan Osasuna tidak cukup kuat untuk membantah laporan wasit, Adrián Cordero Vega.
Dalam keputusannya, Komite menyatakan bahwa laporan wasit menyebut adanya “penggunaan kekuatan berlebihan dalam perkelahian antara pemain Osasuna dan Real Madrid.”
Mereka menegaskan bahwa penilaian atas kesalahan material yang nyata dalam laporan wasit memerlukan bukti yang secara tegas, tanpa keraguan yang wajar. Sementara itu, rekaman yang disampaikan Osasuna dianggap justru menguatkan versi wasit.
Keputusan ini tentu menambah kekecewaan kubu Osasuna, yang merasa sudah cukup terbuka mengakui kesalahan pemain mereka, namun tetap percaya bahwa ada kesalahan dalam penilaian wasit.
Yang menjadi sorotan tambahan adalah kualitas dan ketersediaan rekaman pertandingan. Meskipun stadion Bernabéu dilengkapi kamera canggih, rekaman insiden Bretones tidak cukup gamblang untuk membuktikan sebaliknya.
Situasi ini mengingatkan publik pada kontroversi “gol hantu” dalam El Clásico musim 2023-24, di mana tembakan Lamine Yamal yang tampaknya melewati garis gawang tidak dihitung sebagai gol. Seandainya gol itu disahkan, Barcelona unggul 2-1 — sebelum akhirnya kalah 3-2 dari Real Madrid.
Kontroversi demi kontroversi ini kembali memicu perdebatan soal penggunaan teknologi dan keputusan wasit di La Liga, terutama dalam pertandingan-pertandingan krusial yang menyangkut klub-klub besar dan tim penantang seperti Osasuna.(maq)











