edisiana.com – Perwakilan klub-klub dari Amerika Selatan tampil sangat impresif dalam gelaran Piala Dunia Antarklub FIFA dengan format baru yang melibatkan 32 tim. Enam klub dari kawasan ini menunjukkan performa luar biasa, bahkan empat di antaranya berhasil memuncaki klasemen grup masing-masing. Namun, pertanyaannya kini: mampukah salah satu dari mereka merebut gelar juara?
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam turnamen ini. Suhu di Amerika Serikat — tempat berlangsungnya turnamen — sangat panas, bahkan diperkirakan bisa mencapai 41 derajat Celsius pada pekan depan.
Bagi para pemain asal Amerika Selatan, terutama dari Brasil dan Argentina, cuaca seperti ini bukanlah hal baru.
Mereka terbiasa bermain dalam kondisi panas, berbeda dengan tim-tim Eropa yang biasa berlaga dalam suhu dingin, bahkan bersalju.
Faktor ini pun dinilai memberikan keuntungan tersendiri bagi tim-tim Amerika Selatan. Klub seperti Flamengo dan Botafogo dari Brasil, serta Boca Juniors dan River Plate dari Argentina, telah membuktikan diri mampu tampil kuat sejak awal.
Botafogo mencuri perhatian setelah mengalahkan juara Liga Champions, Paris Saint-Germain, dengan skor tipis 1-0. Sementara Flamengo menunjukkan mental baja dengan bangkit dari ketertinggalan dan menang 3-1 atas Chelsea, juara UEFA Conference League.
Total ada enam klub dari Amerika Selatan yang berpartisipasi dalam turnamen kali ini: Palmeiras, Botafogo, Flamengo, dan Fluminense dari Brasil, serta Boca Juniors dan River Plate dari Argentina.
Mereka mengawali kompetisi dengan gemilang — tak terkalahkan dalam sembilan pertandingan pertama. Palmeiras, Botafogo, Flamengo, dan River Plate bahkan berhasil memuncaki klasemen grup masing-masing.
Namun, rekor tak terkalahkan tersebut akhirnya pecah ketika Boca Juniors takluk 1-2 dari Bayern Munich pada Sabtu pagi, 21 Juni. Kekalahan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa jalan menuju juara masih panjang dan penuh tantangan, terutama menghadapi klub-klub raksasa Eropa.
Sejarah juga menjadi beban tersendiri. Sejak Corinthians mengalahkan Chelsea pada final tahun 2012, tidak ada lagi klub dari Brasil — atau Amerika Selatan — yang mampu mengangkat trofi juara dunia antarklub.
Sementara itu, klub Argentina belum pernah sekalipun menjuarai turnamen ini sejak pertama kali digelar pada tahun 2000.
Meski demikian, manajer Flamengo, Filipe Luis, tetap optimis. Melansir BBC pada hari ini, Luis meyakini bahwa dengan kekuatan mental, pengalaman bermain di cuaca panas, dan momentum awal yang positif, tim-tim dari Amerika Selatan memiliki peluang nyata untuk mengakhiri dominasi Eropa di ajang ini.
Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang tampil impresif — tapi siapa yang bisa bertahan sampai akhir dan mengangkat trofi?(maq)










