edisiana.com – Newcastle United kembali melukai diri mereka sendiri. Kemenangan yang sudah di depan mata menguap begitu saja. Unggul dua gol, menguasai laga, membuat Chelsea tak bernapas, namun malam di St James’ Park berakhir pahit: 2-2.
Babak pertama adalah milik The Magpies. Tim Eddie Howe bermain garang, intens, dan penuh keyakinan. Chelsea dibuat terlihat kecil di tengah atmosfer stadion yang bergemuruh.
Dua gol Nick Woltemade menghantam mental tim tamu. Newcastle tampak menuju kemenangan meyakinkan.
Tapi Liga Inggris tidak pernah memaafkan kelengahan.
Statistik kembali menghantui: tak ada tim yang membuang lebih banyak poin dari posisi unggul selain Newcastle—13 poin! Dan luka itu kembali terbuka.
Babak kedua baru saja dimulai ketika kapten Chelsea, Reece James, menyulut api kebangkitan. Tendangan bebas sempurna dari jarak 25 yard menghujam gawang, mengubah suasana stadion dari pesta menjadi tegang.
Kontroversi pun datang. Anthony Gordon dijatuhkan Trevoh Chalobah di kotak penalti. St James’ Park berteriak. Wasit bergeming.
Newcastle merasa dirampok. Dan kemudian, João Pedro muncul. Pemain yang musim panas lalu memilih Chelsea ketimbang Newcastle itu menusuk luka tuan rumah.
Berlari cepat, memanfaatkan blunder Malick Thiaw, dan menaklukkan Aaron Ramsdale. Gol yang terasa seperti pengkhianatan.
Laga berubah menjadi liar. Terbuka. Di menit-menit akhir, kesempatan penebusan datang. Harvey Barnes—masuk dari bangku cadangan—mendapat peluang emas. Tendangan voli… melenceng! Eddie Howe menutup wajahnya. Ia tahu: kemenangan itu sudah hilang.
Peluit akhir berbunyi. Menukil BBC, Newcastle kembali terpukul oleh kisah lama mereka sendiri. Chelsea tetap nyaman di empat besar, unggul enam poin.
Newcastle? Terjebak di posisi ke-11. Dominan, berani, tapi rapuh. St James’ Park kembali menjadi saksi: di Premier League, unggul saja tidak cukup.(maq)










