Kisah Thomas Tuchel, Manajer Timnas Inggris: Karir Bola Tamat di Usia Emas, Lalu Jadi Pelayan Bar (Bagian – 1)

Thomas Tuchel saat menukangi Stuttgart junior. Foto: via BBC

edisiana.com – Thomas Tuchel  menjadi manajer tetap  bukan orang Inggris ketiga yang memimpin tim nasional negeri Elizabeth. Sebelumnya ada Sven-Goran Eriksson dan Fabio Capello. Bagaimana kah perjalanan karir bolanya?

Ia memulai kariernya di klub divisi dua Jerman Stuttgarter Kickers. Tiga tahun kemudian di tim divisi tiga SSV Ulm hingga cedera lutut serius.

Akibatnya, Tuchel mengakhiri karier bermainnya pada tahun 1998, saat usia emas yakni 25 tahun.

Pada tahun 2000, mencoba berkarir sebagai pelatih profesional. Tapi  masih jauh dari kesuksesan. Dan berhenti. Bekerja di sebuah bar di Jerman.

“Ketika saya menjadi pelatih kepala Stuttgart, saya mengetahui dia bekerja di sebuah bar untuk mencari nafkah. Saya hampir tidak dapat mempercayainya,” kata Ralf Rangnick seperti dilansir BBC pada hari ini.

BACA JUGA:  Napoli Memburu Scudetto, Conte di Ambang Rekor Bersejarah

Ralf Rangnick, pernah jadi bos ULM yang kemudian mengelola Schalke, RB Leipzig, Manchester United dan sekarang menjadi pelatih kepala Austria.

“Saya meneleponnya dan menawarkan bergabung dengan kami dan bekerja sebagai pelatih tim muda,” tambah mantan pelatih Manchester United itu.

Tuchel lalu memulai kembali karier kepelatihannya.”Jelas dia tidak seharusnya bekerja di bar dan lebih suka berada di lapangan bersama sebuah tim,” ucap Rangnick.

Tuchel kemudian bekerja dengan Stuttgart U-15 dan beberapa tahun kemudian membimbing tim U-19. Di sana karirnya mulai menanjak dengan meraih gelar liga.

Peran manajerial senior pertamanya datang pada tahun 2007 di FC Augsburg II dan dua tahun kemudian ia menangani klub Bundesliga Mainz, yang memiliki Jurgen Klopp sebagai salah satu mantan bos mereka.

BACA JUGA:  Newcastle Borong Pemain Bintang

Rangnick tidak terkejut Tuchel akan melatih di tim level atas.  “Thomas adalah orang yang sangat cerdas dan pintar. Ia belajar olahraga di Stuttgart. Jelas ia memiliki cukup banyak aset yang dibutuhkan sebagai seorang manajer,” tutur Rangnick menjelaskan.

Dalam lima tahun di Mainz, ia lolos ke Eropa dua kali, membimbing mereka ke posisi kelima pada 2010-11, posisi Bundesliga terbaik mereka sepanjang masa.

Menurut dia, Thomas Tuchel banyak dibimbing oleh manajer maupun pelatih di Jerman.

“Dia memiliki keinginan kuat untuk belajar, berpikiran terbuka, dan ingin tahu,” kata mantan gelandang Jerman Thomas Hitzlsperger.

“Ralf Rangnick adalah salah satu pelatih yang memengaruhinya,” imbuhnya lagi. Dan Tuchel, tambahnya, belajar tentang penguasaan, dan merebut bola.

“Lalu bagaimana Anda menciptakan peluang dan mencetak gol,” ucap Hitzlsperger.

BACA JUGA:  Chelsea Rugi Hanya £90,1 Juta

Dari pengalaman itu, ia melanjut, Tuchel sangat dekat dengan permainan Pep Guardiola dalam hal tentang sepak bola dan cara menciptakan peluang dari penguasaan bola sendiri.

“Pep lebih merupakan pelatih yang ia kagumi, selama mereka bersama di Bundesliga terjalin hubungan. Mereka masih berteman dan sering berbincang,” terang dia.(maq/bersambung)