edisiana.com – Malam Eropa yang penuh ketegangan bagi Crystal Palace. Tim asuhan Oliver Glasner harus puas dengan hasil imbang saat bertandang ke markas Zrinjski Mostar pada leg pertama play-off UEFA Europa Conference League, Kamis malam waktu setempat.
Sebuah duel yang menyisakan rasa frustrasi bagi wakil Premier League, yang merasa pantas membawa pulang lebih dari sekadar satu poin.
Gol dianulir dan dominasi awal
Palace sebenarnya langsung mengirim pesan tegas. Pada menit ke-12, Sarr memanfaatkan bola lepas dan menyelesaikannya dengan klinis dari jarak enam yard.
Namun selebrasi itu terhenti cepat. Gol dianulir karena Chris Richards dianggap berada dalam posisi offside sebelum terciptanya peluang. Detail kecil, konsekuensi besar.
Tim tamu mendominasi fase awal dengan penguasaan bola yang rapi dan tekanan tinggi. Tetapi Zrinjski menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap.
Serangan balik cepat dari sisi kanan memaksa Daniel Munoz melakukan intervensi krusial di menit-menit terakhir untuk menyelamatkan situasi.
Enam menit jelang turun minum, publik tuan rumah sempat bangkit. Sundulan indah Mario Cuze mengarah ke Antonio Ivancic, namun tembakannya melambung tinggi. Sebuah peringatan serius bagi pertahanan Palace.
Sarr membuka skor, Zrinjski membalas
Akhirnya, pada menit ke-43, tekanan Palace membuahkan hasil. Sentuhan pertama yang elegan dari rekrutan anyar Strand Larsen membuka ruang dan memberikan assist matang kepada Sarr.
Sang penyerang tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mencetak gol pembuka—yang ketiganya di kompetisi musim ini.
Namun sepak bola Eropa jarang memberi ketenangan terlalu lama.
Sepuluh menit memasuki babak kedua, Zrinjski menyamakan kedudukan. Abramovic menuntaskan lari cepat Leo Mikic dengan sepakan terarah ke sudut jauh gawang.
Frustrasi dan momen krusial VAR
Palace terus menekan. Wharton hampir menebus kesalahan sebelumnya dengan mencetak gol perdananya untuk klub, tetapi tembakan jarak jauhnya menghantam mistar dalam 20 menit terakhir.
Richards, yang lolos dari kawalan, juga menyundul melebar dari dalam kotak penalti setelah situasi sepak pojok—peluang emas yang terbuang.
Di pinggir lapangan, Glasner tampak gelisah. Penguasaan bola tak berbanding lurus dengan efektivitas. Dan sembilan menit jelang bubaran, drama nyaris mencapai puncaknya ketika wasit menuju monitor VAR untuk meninjau dugaan handball Munoz.
Keputusan akhirnya berpihak kepada Palace—napas lega bagi tim Inggris.
Hasil imbang ini membuat segalanya terbuka. Melansir BBC, Leg kedua di London selatan pekan depan akan menjadi penentu.
Selhurst Park menanti, dan Palace tahu: untuk melangkah lebih jauh di Eropa, dominasi saja tidak cukup—mereka butuh ketajaman.(maq)











