Ini Komen Pep dan Inzhagi Soal Laga Inter Menjamu City

Haaland gagal mencetak gol saat bertandang ke Inter Milan. Foto: via ESPN

edisiana.com – Inter Milan akhirnya bertemu lagi dengan Manchester City setelah 466 hari dari final Liga Champions 2023 di Istanbul. Baik Inzaghi maupun Pep Guardiola dapat membuktikan bahwa tim mereka seharusnya menang.

“Kami bermain sangat bagus.Saya mencintai tim saya, kami adalah tim yang fantastis. Inter adalah tim yang bertahan dengan sangat baik. Mereka adalah ahli dalam bertahan dan juga transisi,” kata manajer Manchester City Pep Guardiola dinukil dari ESPN pada hari ini.

City belum pernah kalah dalam laga penyisihan grup Liga Champions di Etihad sejak kalah 2-1 dari Lyon enam tahun lalu.

Di bawah asuhan Guardiola, mereka terbiasa menang mudah di pertandingan- pertandingan awal dan segera mengalihkan perhatian ke pertandingan penting di kompetisi ini.

Setidaknya Inter memberikan pengingat bahwa fase liga baru. Dengan pertandingan melawan unggulan teratas lainnya walau pun lebih rumit untuk dilalui.

City begitu hebat di Liga Champions, sehingga Inter datang ke Manchester sebagai tim yang kurang diunggulkan. Namun, Inter adalah tim terbaik Italia karena suatu alasan.

BACA JUGA:  Guardiola: Real Madrid selalu Real Madrid

Dengan bek sayap Darmian dan Carlos Augusto yang tetap tinggi dan melebar, Barella mampu menemukan ruang di seluruh lini tengah dan mengoper bola dengan cepat ke Marcus Thuram dan Mehdi Taremi.

Guardiola menyaksikan transisi demi transisi dengan kepala di tangannya. Ia begitu muak dengan Barella pada akhir babak pertama.

Sehingga ketika gelandang Inter itu kembali mengambil bola di garis tengah, ia mengangkat tangannya ke udara dan berbalik dengan kesal.

Serangan itu baru berakhir ketika kiper  Ederson menyelamatkan tendangan dari Augusto. Dan itu adalah satu dari 10 tembakan yang dilepaskan Inter di babak pertama.

Tidak mengherankan ketika peluit tanda berakhirnya babak pertama dibunyikan, Guardiola berbalik dan berlari ke lorong untuk bersiap memulai lebih dulu sesuai instruksinya.

Solusinya adalah memasukkan Gündogan untuk Kevin De Bruyne yang mengalami cedera dan Phil Foden untuk Savinho. Dan rotasi ini membantu City memperoleh kendali dan menciptakan peluang mereka sendiri.

BACA JUGA:  Rabiot Diperebutkan Tiga Klub Besar

Foden melepaskan tembakan tepat ke Yann Sommer setelah gerakan rumit yang dimulai oleh Jack Grealish dan Gündogan. Seharusnya bisa melakukan yang lebih baik dengan dua sundulannya di akhir pertandingan.

Sundulan pertama dari umpan silang Josko Gvardiol seharusnya mengarah ke mana pun kecuali ke tangan Sommer yang bersyukur.

Untuk kedua kalinya dalam 42 pertandingan kandang Liga Champions di bawah asuhan Guardiola, City gagal mencetak gol.

Setelah itu, Inzaghi mengatakan para pemainnya telah menampilkan performa yang luar biasa.

“Saya bilang, bagus sekali, kawan. Saya meminta mereka bermain persis seperti yang mereka lakukan. Kita semua tahu Manchester City dan apa yang mampu mereka lakukan,” ujar Inzhagi.

Penampilan Inter yang dicapai dengan kapten Lautaro Martínez di bangku cadangan selama 66 menit menunjukkan kredibilitas mereka sebagai penantang Liga Champions.

Namun, City melakukan hal yang sama. Mereka telah mencapai babak sistem gugur selama 11 tahun berturut-turut dan meskipun terkadang terlihat rapuh.

BACA JUGA:  Demi Tiga Gelar Domestik, Liverpool Berusaha Menang di Kandang Plymouth

The Sky Blue memiliki peluang untuk menang dan Guardiola merasa lebih bahagia daripada frustrasi.

Dalam format baru UEFA, dua tim terbaik Eropa bertemu di awal dan ada cukup banyak hal yang ditunjukkan di Etihad yang menunjukkan bahwa mereka dapat bertemu lagi saat kompetisi mencapai klimaksnya.

“Kami kebobolan satu setengah peluang dan kami tidak dapat menciptakan banyak peluang ketika sebuah tim bertahan dengan 11 pemain sedalam itu,” pungkas Guardiola.(maq)