Final Para Raja: Spanyol dan Argentina Berebut Mahkota Dunia

Lamine Yamal selebrasi mengenakan mahkota raja. Foto: via Mundo Deportivo

edisiana.com — Dua kekuatan sepak bola dunia, Spanyol dan Argentina, akan saling berhadapan dalam final Piala Dunia di Stadion MetLife, Minggu malam waktu setempat atau Senin dini hari WIB. Pertemuan ini menghadirkan duel istimewa antara dua juara benua yang sama-sama datang dengan ambisi mengukir sejarah.

Bagi La Roja, laga ini menjadi kesempatan untuk meraih gelar Piala Dunia putra kedua sekaligus melengkapi koleksi trofi setelah menjuarai Euro 2024. Sementara itu, La Albiceleste mengincar prestasi yang jauh lebih langka: menjadi tim pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia. Pada tahun yang sama ketika mereka menjadi juara dunia, Argentina juga sukses mempertahankan mahkota Copa América.

Meski datang sebagai juara bertahan, catatan pertemuan tidak sepenuhnya berpihak kepada tim asuhan Lionel Scaloni.

Menurut Sport Mole, Argentina kalah dalam tiga dari empat pertemuan melawan Spanyol di abad ke-21. Kekalahan paling menyakitkan terjadi pada laga persahabatan 2018 ketika mereka dibantai dengan skor telak 6-1.

Namun, final di MetLife diprediksi akan menghadirkan cerita yang sangat berbeda. Jika kekalahan enam gol itu masih membekas dalam ingatan, duel kali ini diyakini bakal berlangsung jauh lebih ketat dengan margin yang sangat tipis.

Pertahanan Spanyol menjadi senjata utama menuju partai puncak. Tim asuhan Luis de la Fuente belum kebobolan selama 649 menit di Piala Dunia ini, sebuah rekor yang mencerminkan disiplin dan soliditas luar biasa.

BACA JUGA:  Ukraina Hajar Belgia 3-1 di Nations League

Tak hanya itu, La Roja juga belum tersentuh kekalahan dalam 37 pertandingan beruntun sejak takluk dari Kolombia pada Maret 2024.

Di sisi lain, Argentina datang dengan kekuatan berbeda. Meski belum mencatatkan clean sheet dalam lima pertandingan terakhir, pasukan Scaloni selalu mampu mencetak sedikitnya dua gol di setiap laga.

Total 19 gol yang mereka bukukan menjadi yang terbanyak di turnamen ini dan menegaskan status mereka sebagai tim paling produktif.

Produktivitas tersebut bahkan melampaui catatan Argentina pada Piala Dunia 1930 ketika mereka mencetak 18 gol sebelum akhirnya finis sebagai runner-up.

Kini, generasi Lionel Scaloni memiliki kesempatan untuk menorehkan sejarah yang lebih besar: membawa Argentina menjadi negara ketiga, setelah Italia pada 1938 dan Brasil pada 1962, yang sukses mempertahankan gelar juara Piala Dunia putra.

BACA JUGA:  Luar Biasa! Ronaldo Cetak Hattrick Lagi

Segala statistik, rekor, dan sejarah kini hanya menjadi pengantar. Ketika peluit pertama berbunyi di MetLife Stadium, hanya satu tim yang akan meninggalkan New York sebagai penguasa dunia.(maq)