Adiós Guardiola, Sang Arsitek!

Pep Guardiola merayakan kemenangan treble dengan tampil beda. Foto: Daylimail

edisiana.com – “Kemenangan hanyalah satu hari. Reputasi akan bertahan seumur hidup.”

Kalimat legendaris milik Johan Cruyff itu menjadi pegangan hidup sekaligus filosofi kepelatihan Pep Guardiola dalam setiap perjalanan kariernya.

Kini, seperti yang pernah dilakukan Cruyff di Spanyol, Guardiola berhasil meninggalkan warisan besar yang mengubah wajah sepak bola Inggris di berbagai level.

Selama satu dekade bersama Manchester City, Guardiola bukan hanya membangun dominasi di level elite. Dia juga membentuk arah perkembangan sepak bola modern hingga ke akar rumput. Strategi dan pendekatan taktisnya bahkan diadopsi para pelatih junior.

Dari pinggir lapangan, Guardiola mengatur para pemain layaknya konduktor orkestra. Detail demi detail dibangun untuk melahirkan tim dengan identitas permainan yang kuat, agresif, dan mendominasi penguasaan bola.

BACA JUGA:  Taktik Berjalan Mulus, Zerbi Senang Hasilnya

Warisan itu kini menjadi fondasi baru sepak bola modern. Tidak hanya di City, tetapi juga di Premier League hingga kompetisi elite Eropa.

Jejak pengaruh Guardiola terlihat jelas lewat para muridnya. Mikel Arteta, yang hampir membawa Arsenal merebut gelar Liga Premier, mendapat pengalaman pertama sebagai pelatih senior ketika menjadi asisten Guardiola di City.

Kemudian ada Enzo Maresca. Mantan staf pelatih Guardiola itu sukses membawa Leicester City kembali ke Premier League sebelum mencatat prestasi bersama Chelsea.

Nama lain yang tak kalah penting adalah Luis Enrique. Dia pernah menangani tim junior Barcelona saat Guardiola memimpin tim utama.

Enrique kemudian menggantikan Guardiola dan mempersembahkan gelar Liga Champions pada 2015 bersama Barcelona sebelum kembali berjaya bersama Paris Saint-Germain.

BACA JUGA:  Van de Ven, Pesepak Bola Tercepat di Euro

Pengaruh Guardiola juga terasa pada Vincent Kompany yang kini bersinar bersama Bayern Munich setelah sebelumnya menjadi kapten Manchester City di era Guardiola.

Begitu pula Xabi Alonso yang pernah bekerja di bawah Guardiola ketika pindah dari Real Madrid ke Bayern Munich pada 2014.

“Saya percaya pada penguasaan bola. Saya tahu semua orang ingin meniru sang pemenang. Tetapi dalam sepak bola dan olahraga, tidak ada yang menang selamanya,” ujar Guardiola dikutip dari BBC pada hari ini

Kini masa pengabdian Guardiola di City tinggal menyisakan satu tahun. Klub bahkan telah memperluas tribun utara stadion dengan namanya sebagai bentuk penghormatan.

BACA JUGA:  Bournemouth Menang Lagi, Sikat Soton 3-1

Dan bisa jadi laga melawan Aston Villa pada Minggu nanti menjadi bagian dari fase perpisahan, apalagi dilengkapi kemenangan gelar Premier League yang ketujuh. Maka sangat kuat menutup karirnya di Etihad dengan indah. Dan akhirnya hanya mengucap: Adiós, Pep Guardiola!.***