edisiana.com – Paris Saint-Germain kembali menegaskan dominasinya di panggung dunia. Dalam final Piala Interkontinental yang sarat tensi, PSG menumbangkan raksasa Brasil Flamengo lewat adu penalti dan mengangkat trofi keenam mereka sepanjang tahun ini. Pahlawannya? Matvey Safonov. Sang kiper Rusia tampil tak manusiawi.
Empat penalti. Empat penyelamatan. Empat mimpi Flamengo yang hancur di tangannya.
PSG datang ke laga ini dengan kekuatan nyaris penuh, meski tanpa Ousmane Dembélé di starting XI. Pemain yang baru saja dinobatkan sebagai Pemain Terbaik FIFA itu disimpan Xabi Alonso sebagai senjata rahasia.
Keunggulan Les Parisiens lahir di menit ke-38. Khvicha Kvaratskhelia, sang penyerang Georgia, lolos dari kawalan di tiang jauh dan menuntaskan umpan silang rendah Desire Doue dengan penyelesaian klinis. Gol khas PSG: cepat, tajam, dan mematikan.
Namun Flamengo menolak menyerah. Mantan gelandang Napoli, Chelsea, dan Arsenal, Jorginho, menunjukkan kelasnya. Ia mengeksekusi penalti dengan dingin setelah Giorgian de Arrascaeta dijatuhkan Marquinhos. Skor imbang. Final kembali terbuka.
Di menit-menit akhir, PSG meningkatkan tekanan. Dembélé akhirnya masuk untuk 12 menit terakhir waktu normal. Intensitas naik, peluang datang, tapi Agustin Rossi berdiri kokoh di bawah mistar Flamengo. Waktu normal berakhir tanpa pemenang.
Adu penalti menjadi panggung milik Safonov. Saúl Ñíguez. Digagalkan.
Pedro. Digagalkan. Leo Pereira. Digagalkan. Luiz Araújo. Digagalkan.
Empat eksekusi Flamengo dipatahkan secara beruntun. Stadion terdiam. Dunia terpukau.
Sementara itu, Vitinha dan Nuno Mendes melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Dua eksekusi tenang yang memastikan kemenangan 2-1 bagi PSG di babak adu penalti.
Peluit akhir berbunyi. PSG juara. Flamengo terjatuh. Dan Matvey Safonov menorehkan namanya dalam sejarah sebagai tembok tak tertembus di malam final.
Menukil BBC, menyebutkan kini PSG mengoleksi enam trofi dalam satu tahun. Era PSG belum berakhir—justru semakin mengerikan.(maq)











