edisiana.com – Polandia datang ke Ta’ Qali dengan mimpi besar—mimpi gila yang mengingatkan dunia pada La Roja edisi 21 Desember 1983, ketika Spanyol mengguncang Malta 12-1.
Bedanya, kali ini Lewandowski dan kawan-kawan tak hanya butuh badai gol, tetapi juga berharap Belanda terpeleset. Terlalu banyak keajaiban yang harus terjadi dalam satu malam.
Dan untuk beberapa menit pertama, semua terasa mungkin. Lewandowski membuka pesta. Sebuah sundulan khas sang kapten dari tengah kotak penalti menghujam sudut kiri bawah.
Polandia tampil agresif, percaya diri, dan seperti ingin berkata kepada dunia: “Kami belum selesai.”
Namun Malta bukan figuran. Joseph Mbong hampir membungkam tamu, memaksa Dragowski terbang menepis bola di sudut kiri bawah.
Peringatan itu tak digubris Polandia. Tapi Malta kembali datang—dan kali ini mereka menghukum.
Irvin Cardona, dari jarak super dekat, menaklukkan Dragowski. Stadion meledak. Polandia sadar bahwa laga ini tidak akan berjalan semudah mimpi-mimpi prapertandingan.
Babak kedua pun jadi drama berlapis.
Pawel Wszolek, memanfaatkan umpan terukur Lewandowski, menghajar gawang Malta pada menit ke-58. Polandia unggul lagi, dan asa kembali dihidupkan.
Tapi Malta kembali membuat denyut jantung Polandia kacau. Penalti diberikan, Teddy Teuma maju… dan gol. Sudut kiri bawah kembali jadi saksi. 2-2, tensi memuncak.
Menjelang waktu normal berakhir, Piotr Zielinski muncul sebagai penentu. Sebuah sepakan terukur memastikan kemenangan Polandia. Tapi itu saja tidak cukup. Keajaiban yang mereka kejar tidak muncul malam itu. Playoff jadi takdir.
Namun ada satu sinyal positif yang tak bisa diabaikan: Robert Lewandowski—tajam, memimpin, dan kembali bermain penuh 90 menit.
Sang kapten masih hidup, dan Polandia akan membutuhkannya untuk perjuangan terakhir menuju turnamen besar.
Mimpi besar tertunda, bukan berakhir.(maq)











