edisiana.com – Real Madrid kembali berdiri tegak. Setelah luka pahit tersingkir dari Copa del Rey, Los Blancos menemukan pelipur lara di Bernabéu: kemenangan 2-0 atas Levante.
Madrid menguasai bola, mengontrol tempo, tapi babak pertama terasa gersang. Dominasi tanpa taring. Peluang nyaris nihil. Tribun mulai gelisah.
Arbeloa membaca bahaya dan bertindak tegas saat jeda. Masuklah Arda Güler dan Franco Mastantuono. Perubahan itu menghidupkan Madrid.
Menit ke-58, momen penentu. Kylian Mbappé dijatuhkan Adrian de la Fuente di kotak terlarang. Tanpa ragu. Penalti. Mbappé maju, tenang, mematikan.
Gol ke-19 sang bintang di La Liga musim ini. Mesin gol Madrid terus menyala—sejajar dengan rekan duetnya yang masih 21 tahun, Gonzalo García.
Madrid bernapas lega, tapi belum berhenti. Tujuh menit berselang, sepak pojok Arda Güler melayang sempurna. Asencio terbang lebih tinggi dari semua orang.
Sundulan keras. Gol. Bernabéu bersorak.
Levante tak mampu bangkit. Madrid mengunci laga dengan kedewasaan—bukan pesta, tapi pernyataan.
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin. Ini awal perjalanan Arbeloa. Melansir BBC, ujian berikutnya sudah menanti: Monaco, Selasa malam, Liga Champions. Madrid menang. Arbeloa bernapas. Dan musim kembali bergerak.(maq)










