edisiana.com – Pep Guardiola tidak mencari alasan. Malam itu, di panggung besar Premier League, Manchester City harus menerima kenyataan pahit: mereka kalah karena memang kalah. Bukan karena detail kecil, bukan karena nasib, tapi karena lawan tampil lebih lapar.
“Tim yang lebih baik menang. Sesederhana itu,” ujar Guardiola tanpa bersembunyi, seperti dikutip MetroSports, Ahad ini.
“Mereka punya energi yang tidak kami miliki. Ketika itu terjadi, Anda hanya bisa menerima dan memberi selamat.”
City tampak kehilangan kendali. Permainan tidak pernah benar-benar berada di tangan mereka, sementara Manchester United terus menekan dengan intensitas yang membuat sang juara bertahan terengah-engah.
Guardiola mengakui, di akhir laga United bahkan sempat menciptakan peluang tambahan—yang akhirnya dianulir karena offside—namun itu hanya menegaskan satu hal: United memang lebih unggul malam itu.
“Kami tidak mengontrol pertandingan. Tapi ini bukan soal satu momen atau satu keputusan,” tegas Guardiola.
“Kami harus menganalisis pertandingan secara keseluruhan, dan kenyataannya mereka bermain lebih baik.”
Kekalahan ini terasa lebih menyakitkan karena dampaknya di klasemen. City kini tertinggal tujuh poin dari Arsenal, sang pemuncak Premier League, yang hanya bermain imbang di kandang Nottingham Forest. Jarak mulai menganga. Tekanan pun meningkat.
Namun Guardiola belum mengibarkan bendera putih. “Saya merasa kami telah melakukan banyak hal dengan sangat baik sejauh ini,” katanya.
“Untuk menjadi lebih baik, mungkin kami harus mundur selangkah. Musim masih panjang. Kami harus terus menganalisis,” pungkasnya.(maq)











