edisiana.com – Sepak Bola Inggris kembali menunjukkan komitmennya terhadap keberagaman dan inklusivitas. Seperti musim-musim sebelumnya, kompetisi kasta tertinggi sepak bola Inggris akan memberlakukan jeda singkat saat waktu berbuka puasa tiba.
Dan guna memberi kesempatan kepada para pemain dan ofisial Muslim membatalkan puasa mereka di bulan Ramadan.
Kebijakan ini diterapkan secara fleksibel dan terkoordinasi. Sebelum pertandingan dimulai, kapten kedua tim bersama ofisial pertandingan akan berdiskusi untuk menentukan apakah jeda diperlukan serta memperkirakan waktu yang tepat untuk penghentian sementara laga.
Namun demikian, jeda tersebut tidak dimaksudkan sebagai water break resmi atau waktu jeda taktis bagi tim. Pertandingan juga tidak akan dihentikan saat bola masih aktif dimainkan.
Wasit akan menunggu momen yang paling memungkinkan—seperti saat tendangan gawang, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam—sehingga ritme dan sportivitas pertandingan tetap terjaga.
Kebijakan ini menjadi angin segar bagi sejumlah pemain Muslim yang berlaga di Liga Primer Inggris.
Di antaranya adalah Mohamed Salah, William Saliba, Rayan Ait-Nouri, dan Amad Diallo. Mereka tetap dapat menjalankan ibadah puasa tanpa harus mengorbankan komitmen profesional di lapangan hijau.
Dukungan terhadap kebebasan beragama di Liga Primer Inggris juga mendapat apresiasi dari para pemain.
Mantan gelandang Everton, Abdoulaye Doucoure menyampaikan pandangannya.
“Di Liga Premier, Anda bebas melakukan apa pun yang sesuai dengan keinginan Anda. Mereka tidak akan pernah melakukan apa pun yang bertentangan dengan keyakinan Anda dan ini sangat bagus,” ujarnya dinukil dari BBC.
Langkah ini kembali menegaskan bahwa sepak bola bukan sekadar soal laga dan persaingan, tetapi juga tentang menghormati nilai-nilai kemanusiaan serta keyakinan setiap individu yang terlibat di dalamnya.(maq)











