edisiana.com – Vallecas bergemuruh. Sang pembunuh raksasa, Atlético Madrid justru tumbang tanpa ampun dengan Rayo Vallecano 3-0
Setelah menaklukkan Barcelona di Copa del Rey, Atlético Madrid datang dengan dada membusung.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: mereka dihajar 3-0 oleh Rayo Vallecano pada Ahad malam LaLiga.
Di hadapan publiknya sendiri, Rayo tampil seperti badai yang tak bisa dibendung. Serangan demi serangan datang bergelombang.
Peluang pertama lahir dari aksi Pacha Espino di sisi kiri kotak penalti. Sepakannya mengarah ke tengah gawang, tetapi Jan Oblak masih sigap menepis bahaya.
Tak berhenti di situ, Ilias Akhomach ikut menguji refleks Oblak. Lagi-lagi kiper Slovenia itu berdiri tegak sebagai penyelamat.
Tendangan keras Fran Pérez pun dimentahkan. Untuk sesaat, Atlético merasa punya malaikat pelindung.
Namun bahkan tembok terbaik pun bisa runtuh.
Dua Pukulan Telak Sebelum Jeda
Menjelang turun minum, Vallecas meledak.
Fran Pérez akhirnya memecah kebuntuan.
Menerima umpan matang Andrei Ratiu, ia melepaskan sepakan dari tengah kotak penalti yang menghujam ke tengah gawang.
Gol! 1-0 dan stadion berguncang.
Belum sempat Atlético menata napas, pukulan kedua datang.
Óscar Valentín menyambar bola dari jarak sangat dekat dengan kaki kiri, mengarah ke sudut kanan bawah gawang. Tanpa ampun. 2-0.
Memasuki babak kedua, Atlético mencoba bangkit. Nico González mendapat peluang emas dari sisi kiri kotak penalti.
Namun Augusto Batalla tampil gemilang, menepis bola ke sudut kiri bawah. Harapan itu sirna. Dan seperti kisah klasik sepak bola: ketika gagal mencetak gol, Anda akan dihukum.
Dari situasi sepak pojok, Álvaro García mengirim umpan silang akurat. Nobel Mendy melompat tinggi dan menanduk bola dari sisi kanan kotak penalti. Sundulan maut. 3-0.
Vallecas pesta. Atlético terdiam.
Rayo bukan hanya menang. Mereka memberi pesan keras kepada LaLiga: jangan remehkan semangat, jangan remehkan Vallecas.(maq)










