edisiana.com – Arsenal tampil bak badai merah yang tak terbendung. Empat gol dalam 30 menit pertama menjadi pernyataan tegas saat mereka menggulung Wigan Athletic dan melaju ke babak kelima FA Cup untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.
Sejak peluit awal berbunyi, perbedaan kasta begitu terasa. Tim tamu yang tengah terseok di League One tak mampu menahan intensitas tinggi The Gunners.
Gol pembuka datang pada menit ke-11 lewat skema yang memadukan visi dan ketajaman.
Eberechi Eze merebut bola di dekat garis tengah dan mengirim umpan terobosan presisi kepada Noni Madueke. Tanpa ragu, sang penyerang menuntaskan peluang dengan dingin, menaklukkan Sam Tickle. Emirates bergemuruh.
Tujuh menit berselang, kombinasi yang sama kembali melukai pertahanan Wigan.
Eze lagi-lagi menjadi arsitek dengan assist brilian, kali ini diselesaikan oleh Gabriel Martinelli dengan tembakan terarah ke sudut gawang. Dua gol, satu pesan: Arsenal lapar.
Dominasi tuan rumah semakin menjadi-jadi ketika kemalangan menimpa Jack Hunt.
Berusaha menyapu bola setelah kerja sama lincah antara Bukayo Saka dan Madueke, sang bek justru membelokkan bola ke gawang sendiri.
Skor melebar, dan pertandingan praktis terkunci sebelum jeda setengah jam.
Wigan sempat mengintip harapan lewat satu serangan langka. Joe Taylor mendapat peluang emas, namun refleks luar biasa Kepa Arrizabalaga menjaga keperawanan gawang Arsenal.
Di babak kedua, pesta hampir berlanjut. Pemain pengganti Viktor Gyökeres membentur tiang gawang, nyaris menambah penderitaan tim tamu.
Bagi Arsenal, kemenangan ini lebih dari sekadar lolos fase berikutnya. Melansir BBC, sejak terakhir kali mencapai babak kelima pada 2020 — musim perdana Mikel Arteta sebagai pelatih dan musim yang berujung trofi — kompetisi ini selalu menghadirkan luka.
Kini, dengan performa meyakinkan dan kedalaman skuad yang tajam, aroma nostalgia kejayaan mulai terasa kembali di London Utara.(maq)











