edisiana.com – Manchester City tak memberi ruang bernapas bagi Arsenal. Seperti mesin pemburu tanpa rasa lelah, pasukan Pep Guardiola terus menempel sang pemuncak klasemen Liga Inggris.
Korbannya kali ini: Crystal Palace. Skor telak 0-3 menjadi pernyataan tegas dari The Sky Blues.
Ahad malam di Selhurst Park sempat menjanjikan kejutan. Palace membuka laga dengan keberanian tinggi. Yeremy Pino lolos dari jebakan offside.
Ia menyambut umpan lambung Adam Wharton, dan tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Gianluigi Donnarumma. Stadion nyaris meledak—namun bola hanya menghantam mistar. City selamat.
Dan seperti hukum tak tertulis sepak bola: siapa yang menyia-nyiakan peluang, akan dihukum.
Palace terus menekan, terus mencoba, tapi ketajaman tak pernah datang. Sebaliknya, City menunggu dengan kesabaran dingin.
Empat menit sebelum turun minum, Matheus Nunes mengirim umpan silang ke tiang jauh. Di sana berdiri Erling Haaland. Sundulan. Gol. Eksekusi klinis khas mesin Norwegia.
Babak kedua dimulai, Wharton kembali hampir mematahkan nasib buruknya. Tendangan kerasnya—lagi-lagi—bertemu tiang gawang. Dewi Fortuna jelas sudah memilih kubu.
Dean Henderson masih sempat menahan tendangan rendah Tijjani Reijnders, namun keindahan tak bisa dibendung lebih lama. Phil Foden muncul dengan gol kelas dunia, sebuah sentuhan seni di tengah dominasi City.
Dan penutupnya? Drama khas Haaland. Savinho dijatuhkan di kotak penalti, wasit menunjuk titik putih. Haaland maju, tanpa ragu. Gol ketiga. Paku terakhir di peti Palace.
Melansir BBC, seharusnya City bisa di posisi puncak klasemen. Mengingat Wolves memberikan perlawan yang ketat pada Arsenal di laga pada Sabtu lalu. Tapi dua gol bunuh diri Yerson Mosquera di waktu tambahan memberikan kelegaan yang sangat dibutuhkan bagi anak asuh Mikel Arteta.
Manchester City menang, Arsenal terus dibayangi, dan perburuan gelar semakin panas. Liga Inggris? Belum selesai. Bahkan baru mulai. (maq)











