edisiana.com – Italia mulai masuk mode panik. Gennaro Gattuso, dengan gaya khasnya yang meledak-ledak, meminta FIFA mengubah proses kualifikasi Piala Dunia. Kenapa?
Karena skenario yang menanti Azzurri nyaris mustahil: menang 9-0 atas Norwegia—minggu ini—demi memperbaiki nasib di jalur playoff. Bahkan bagi negara empat kali juara dunia, itu seperti misi dari galaksi lain.
Italia, yang kini hanya duduk di peringkat kesembilan dunia FIFA, masih dihantui trauma: absen di Piala Dunia 2018 dan 2022 setelah tumbang di playoff melawan Swedia dan Makedonia Utara. Luka lama itu belum sembuh, kini datang tekanan baru.
Eropa memang mendapat 16 tiket untuk Piala Dunia 48 tim, tetapi format playoff kembali menjadi momok. Dan Gattuso tak mau tinggal diam. Ia menuntut keadilan.
“Di masa saya, runner-up grup terbaik langsung lolos. Sekarang aturannya sudah berubah,” kata Gattuso, dikutip dari ESPN pada hari ini.
Ia kemudian mengungkit perbandingan historis, menyoroti perkembangan kuota Afrika: dua tim pada 1990, tiga tim pada 1994, dan sekarang sembilan.
“Ini bukan kontroversi. Tapi faktanya ada kesulitan besar, dan kita semua tahu itu,” tegasnya.
Ketegangan makin memuncak setelah para pemain Azzurri diejek oleh sekitar 400 tifosi yang jauh-jauh datang ke Moldova. Italia butuh waktu 88 menit hanya untuk menembus gawang tim terlemah di grup. Sebuah performa yang menambah bensin ke api kekecewaan publik.
Gattuso—yang mengambil alih kursi panas dari Luciano Spalletti pada Juni lalu setelah kekalahan memalukan dari Norwegia—tak tinggal diam melihat skuadnya dihujani cacian.
“Ini bukan waktunya menyuruh para pemain mencari pekerjaan lain. Jujur saja, saya tidak terima dengan ejekan itu,” ujar Gattuso, masih dengan nada berapi-api khas dirinya.
Italia sedang berjalan di tepi jurang. Dan Gattuso tahu: jika aturan tak berubah, nasib Azzurri bisa kembali masuk buku hitam sejarah.(maq)











