edisiana.com – Stamford Bridge sekali lagi menutup pintunya untuk David Moyes. Pelatih asal Skotlandia itu datang dengan harapan mematahkan kutukan, tetapi pulang dengan tangan hampa. Everton tumbang 2-0, dan mimpi kemenangan pertama Moyes di kandang Chelsea kembali terkubur.
Statistiknya kejam: Moyes tak pernah menang di stadion ini, dan menurut ESPN, kemenangan terakhir Everton di markas Chelsea bahkan sudah terkubur sejak 1994. Terlalu lama. Terlalu menyakitkan.
Ironisnya, segalanya tampak berpihak pada Everton. Chelsea sedang limbung, performanya jauh dari kata meyakinkan. Sabtu malam itu terasa seperti momen balas dendam. Namun sepak bola selalu punya tokoh utama sendiri.
Dan kali ini, namanya Cole Palmer. Pemain kesayangan Enzo Maresca itu memastikan malam tersebut menjadi miliknya. Cole Palmer mencetak gol pada menit ke-21, pada laga pertamanya sebagai starter setelah hampir empat bulan absen. Stamford Bridge bergemuruh.
Gol itu lahir dari umpan cerdas Malo Gusto, yang tampil luar biasa. Bek kanan Prancis itu bahkan melangkah lebih jauh: setelah mencetak gol profesional pertamanya pada November lalu, Gusto kembali mencatatkan namanya di papan skor.
Kali ini memanfaatkan umpan silang tajam Pedro Neto sebelum turun minum.
Everton sebenarnya punya jalan kembali. Jack Grealish mendapat peluang emas—namun bola melayang, melewati gawang, melebar, membuang harapan.
Di sisi lain, Reece James hampir menambah luka Everton lewat tendangan bebas, tetapi Jordan Pickford tampil sigap.
Peluang terakhir menjadi simbol malam sial Everton. Iliman Ndiaye sudah membuat Robert Sánchez tak berdaya, tetapi bola hanya membentur tiang. Dewi Fortuna berpaling.
Stamford Bridge tetap angkuh. Moyes kembali kalah. Everton kembali pulang tanpa senyum.
Dan Cole Palmer, setelah lama menghilang, mengingatkan semua orang: panggung besar selalu menunggu bintang besar.(maq)










