Kisah Kepulauan Faroe yang Terasa Seperti Dongeng Sepak Bola Piala Dunia

Tim Kepulauan Faroe yang ikut ajang kualifikasi Piala Dunia. Foto: via BBC

edisiana.com – Di sebuah negeri kecil yang ditiup angin Atlantik Utara, mimpi besar justru tumbuh dari kaki-kaki para pemain yang kesehariannya jauh dari gemerlap industri sepak bola.

Ada tukang listrik, tukang kayu, guru, penjaga taman kanak-kanak, bahkan seorang CEO penjual piza. Namun mereka semua mengenakan lambang yang sama di dada: Kepulauan Faroe.

Dan kini, mereka masih hidup dalam perebutan tiket Piala Dunia 2026. Faroe kini mengoleksi 12 poin, perolehan terbaik mereka sepanjang sejarah kualifikasi.

Mereka hanya terpaut satu poin dari Republik Ceko—setelah kemenangan sensasional 2-1 berkat gol Hanus Sorensen dan Martin Agnarsson, dua pemain yang bahkan belum berusia 25 tahun.

BACA JUGA:  Guardiola: Selamat untuk United!

Bagi bek senior Odmar Faero, keduanya adalah wajah baru generasi Faroe. “Mereka kuat, eksplosif, lincah… dan punya kenekatan khas anak muda,” ujarnya dikutip dari BBC pada Jumat, 14 November.

“Mereka tidak peduli siapa lawannya—seperti air yang mengalir begitu saja di punggung bebek.”

Semi-Pro? Ya. Takut? Tidak Pernah.

Sorensen dan Agnarsson mungkin bermain secara profesional di Slovenia dan Denmark. Namun Faero? Dia bekerja di toko furnitur. Lainnya mengajar. Membuat piza. Memotong kayu. Menarik kabel listrik.

Dan pelatih kepala mereka, Eyoun Klakstein? Mantan penulis kriminal.

Skuad Faroe adalah dunia nyata dalam bentuk sebelas pemain.“Tidak jauh berbeda dari tim semi-pro Inggris,” kata Faero.
“Ada tukang listrik, tukang kayu, guru… bahkan banyak pemain muda yang kerja di taman kanak-kanak karena jamnya cocok dengan latihan.”

BACA JUGA:  Terbentur Tiang, Haaland Gagal Menyamai Rekor Hattrick Empat Legenda Liga Inggris

Bayangkan menghadapi Luka Modric dan Josko Gvardiol di Rijeka… setelah pagi harinya menyusun sofa di toko furnitur. Itulah Faroe.

Faroe: Tim Pekerja Keras yang Berani Mimpi Besar

Faroe bukan sekadar underdog; mereka adalah simbol bahwa sepak bola masih punya ruang untuk keajaiban.

Tim dari negeri 54 ribu penduduk ini menolak menyerah, menolak tunduk, dan kini menatap sejarah.

Jika mereka lolos ke Piala Dunia 2026, itu bukan hanya kisah olahraga.Itu akan menjadi legenda.

BACA JUGA:  Ronaldo Frustasi Dikerjai Di Maria

Dengan tukang listrik, tukang kayu, guru, pekerja taman kanak-kanak, dan seorang CEO penjual piza… dunia boleh saja tersenyum.

Faroe? Mereka datang untuk bertarung.(maq)