edisiana.com – Michael Carrick datang bukan untuk menunggu waktu. Ia datang dengan target raksasa: membawa Manchester United finis di empat besar dan kembali ke Liga Champions musim depan. Tidak ada ruang untuk alasan di Old Trafford.
United berharap penunjukan Carrick hingga akhir musim menjadi awal dari stabilitas yang lama hilang. Namun realitasnya kejam.
Setan Merah saat ini terdampar di peringkat ketujuh Premier League dengan 32 poin, tanpa kompetisi lain untuk dijadikan pelarian. Fokus tunggal: liga atau kehancuran.
Menurut laporan Sport Mole, pesan dari manajemen jelas: empat besar adalah kewajiban, bukan mimpi. Carrick pun yakin. Ia percaya kualitas skuadnya cukup untuk mengamankan tiket Liga Champions, meski papan klasemen berkata sebaliknya.
Ujian langsung menghadang. Manchester City dan Arsenal menunggu dalam dua laga berikutnya. Dua pertandingan yang bisa menjadi batu loncatan… atau hukuman mati. Para penggemar berhak pesimistis.
Dua kekalahan beruntun akan membuat United tertinggal sembilan poin dari Liverpool, yang saat ini duduk di posisi keempat. Setelah 23 pekan berlalu, jarak itu bisa menjadi jurang yang nyaris mustahil diseberangi.
Namun Carrick masih punya alasan untuk berharap. Liverpool tampil tidak konsisten, kehilangan poin di lima dari delapan laga terakhir Premier League mereka. Pintu itu belum tertutup sepenuhnya.
Selain itu, minimnya jadwal pertandingan United bisa menjadi senjata rahasia. Tanpa distraksi, mereka bisa menekan di fase akhir musim—terutama jika Liverpool terseret jauh di Piala FA dan Liga Champions.
Musim ini bukan tentang proses. Ini tentang hasil. Dan bagi Michael Carrick, hanya ada satu akhir yang diterima di Manchester: Liga Champions atau kegagalan total.(maq)











