edisiana.com – Andreas Iniesta sudah meraih sejumlah trofi. Mulai Liga Champions, Kejuaraan Eropa, hingga Piala Dunia. Bahkan Iniesta sebagai satu-satunya pemain yang memenangkan penghargaan man of the match di final ketiga kompetisi. Namun bagaimana perjalanan karir sepakbolanya hingga semoncer itu?
Iniesta dari Fuentealbilla, sebuah desa kecil di provinsi Albacete di timur Spanyol. Perjalanan karir bolanya dari utara Albacete ke Barcelona.
Dengan menempuh waktu lima setengah jam perjalanan, yang kala itu seorang anak berusia 12 tahun yang pemalu dan rindu kampung halaman.
Tapi di La Masia, permainan sepakbolanya mulai berkembang. Bersama Lionel Messi, Cech Fabregas digodok dan menjadi gelandang yang mumpuni.
Hingga ia menjadi pesepakbola Spanyol dengan penghargaan terbanyak dengan 35 trofi, termasuk dua Treble bersama Barcelona.
Yakni sembilan gelar La Liga, empat Liga Champions, Piala Dunia dan dua Kejuaraan Eropa.
Kesuksesan bagi maestro yang rendah hati itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Pada tahun 1999, setelah kapten Barcelona U-15 Iniesta mencetak gol kemenangan di Nike Premier Cup.
Kala itu kapten tim utama Pep Guardiola mengatakan kepada sesama gelandang Xavi: “Kalian akan memensiunkan saya,” ujar Pep Guardiola dikutip dari BBC sambil bercanda. Guardiola kemudian menunjuk Iniesta muda.
Jalannya menuju keabadian sepakbola bukannya tanpa pengorbanan, baik secara pribadi maupun profesional.
Iniesta kehilangan teman baiknya Dani Jarque karena serangan jantung, saat berusia 26 tahun. Dan tidak bisa berjumpa dengan pacarnya dan melalui telepon selama kamp pelatihan pramusim Espanyol pada tahun 2009.
Bahkan kemudian ia mengalami cedera kronis sebelum Piala Dunia 2010. Yang menjerumuskannya ke dalam spiral depresi yang berdampak besar pada hidupnya dan mengancam kariernya secara serius.
Untung ada konseling profesional dan cinta serta dukungan dari orang-orang terdekatnya, tidak terkecuali istri tercintanya Anna Ortiz, membantunya melewati hari-hari tergelap.
Gol kemenangannya di final Piala Dunia 2010 melawan Belanda, dan reaksinya terhadap hal itu, yang akan membantu mengakhiri periode hidupnya.
Dan menjadi dalam prosesnya mendorongnya dari legenda sepak bola menjadi ikon nasional.
Iniesta berikan tulisan penghormatan kepada rekan baiknya yang terkena serangan jantung. Foto: via BBC
Penghormatannya yang sederhana, menyentuh hati, dan ditulis tangan kepada temannya di rompinya: – “Dani Jarque – siempre con nosotros [selalu bersama kami].”
Tulisan ia ungkapkan setelah mencetak gol akan dikenang sebagai salah satu momen paling menyentuh dan ikonik dalam sepak bola.
Tepuk tangan meriah yang kini diterimanya di mana pun di Spanyol ia bermain bersama Barcelona – termasuk di kandang rival derby Espanyol dan lawan Clasico Real Madrid – selalu lebih dari sekadar sepak bola.(maq/bersambung)











